BIOGRAFI TOKOH GKJ SERI 4

 

80 TAHUN

PENDETA BROTOSEMEDI WIRJOTENOJO

 

Selembut Sutera Sekeras Baja

 

 

 

Brotosemedi lahir pada hari Kamis, 30 Oktober 1930 di Purworejo dari pasangan Wirjotenojo dan Mariane. Brotosemedi adalah anak ketujuh dari sebelas bersaudara mengalami delapan tahun masa kanak-kanak di Tlepok, baru kemudian di Kutoarjo. Ketika menginjak usia sekolah, selama satu tahun Brotosemedi harus menjalani kegiatan “nglajo” Tlepok-Kutoarjo sejauh 20 km pergi-pulang. Bersama kakak-kakaknya, yaitu Adimarto dan Dono Adi Muso oleh Ds. Wirjo dimasukkan sekolah di Hollands Javaanse School (HJS) Kristen “Siswo Wijoto” Kutoarjo (sebelumnya bernama Ngesti Wiyoto) yang baru saja didirikan. HJS yang dibuka di Kutoarjo adalah sekolah dengan pengantar bahasa Belanda. Bahasa pengantar ini memberikan gambaran, kemana anak-anak tersebut melanjutkan sekolahnya dan lapangan pekerjaan apa yang bisa mereka raih nanti. Menurut pengakuan Brotosemedi sendiri diantara anak-anak Ds. Wirjo, dialah anak laki-laki Ds. Wirjo yang paling bodoh dan lemah. Itulah sebabnya-demikian pengakuan Brotosemedi- Ibu Wirjo lebih memperhatikannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.

 

Lulus SMP pada tahun 1949, dan baru pada tahun 1950, Brotosemedi masuk SMA, bukan SMA BOPKRI Pagi tapi SMA BOPKRI Sore Yogyakarta. Pada masa pemuda-remaja, Brotosemedi tidak terlalu aktif di gereja. Keterkaitan Brotosemedi dengan Gereja Jawa Gondokusuman Yogyakarta hanyalah ketika dia mengikuti katekisasi dengan Ds. Wijoto. Itupun meninggalkan kesan yang unik, karena Brotosemedi dikenalnya sebagai murid yang selalu memberi pertanyaan yang ruwet. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan ruwet dari murid katekisasi yang satu ini jawab Ds. Wijoto hanyalah, “Kuwi mung kudu dipercaya, ora kok kudu dipikir mumet. Percaya bae.”

 

Yang membuat Brotosemedi tidak mengikuti kegiatan pemuda gereja pada waktu itu adalah karena kebiasaannya belajar filsafat. Ketika di SMA, Brotosemedi justru sedang menekuni filsafat Kal-Marx dalam Marxisme, dan beruntung pada waktu itu berakhir pada kesimpulan bahwa filsafat Marxisme itu tidak ada benarnya sama sekali. Sambil belajar di SMA BOPKRI, Brotosemedi juga membantu mengajar di SMP Masehi Kutoarjo yang menempati gedung sekolah eks-Hollandsche Chineese School (HCS) Kutoarjo.

 

Usia 23 tahun, Brotosemedi berhasil menyelesaikan SMA-nya, setelah istirahat dari belajar selama satu tahun, Brotosemedi pada tahun 1954 diterima di Fakultas Sastra Paedagogik dan Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta Jurusan Filsafat. Disaat itu Brotosemedi tidak cukup hanya melulu kuliah. Seperti para mahasiswa saat itu, dia harus nyambi bekerja agar memiliki biaya tambahan untuk menegakkan hidupnya diperantauan dan untuk meraih cita-citanya menjadi ahli filsafat. Brotosemedi nyambi mengajar di SMP BOPKRI Rewulu, disinilah Brotosemedi bertemu dengan Suratinah yang kemudian dinikahinya. Pada tahun kedua perkuliahannya di UGM, Brotosemedi harus meninggalkan bangku perkuliahan, dikarenakan Ibu Wirjo yang menderita sakit keras dan harus dirawat di Rumah sakit Bethesda. Oleh karena permintaan Ibunya untuk menjadi Pendeta, Brotosemedi kemudian meneruskan pendidikannya pada tahun 1956 di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Jakarta.

 

Selama belajar di STT Jakarta, Brotosemedi mempunyai teman dekat diantaranya: Nyoo Liang Sing alias Wimpie dan Roesbyakto. Brotosemedi selalu tampil sederhana, rendah hati, tetapi intelektual. Brotosemedi dapat menyelesaikan ujian akhirnya dengan cum laude pada tahun 1961. Lima tahun Brotosemedi belajar teologi di STT Jakarta, dan Ibu Wirjo mampu bertahan dengan harapannya untuk menyaksikan anaknya menjadi pendeta.

 

Pada tahun 1962, Brotosemedi menerima panggilan untuk melayani jemaat Tuhan di GKJ Kebume dan GKJ Gombong. Dan, Brotosemedi memilih menerima panggilan di GKJ Gombong, alasannya cukup sederhana: “Bukankah belajar (melayani) itu sebaiknya dimulai dari yang kecil?”

 

Dengan dibimbing oleh Pdt. Hardjoprajitno-yang pada waktu itu menjabat sebagai pendeta utusan untuk Klasis Kebumen-dan Pdt. Wijoto Hardjotaruno dari GKJ Gondokusuman selaku utusan Deputat Sinode, panggilan ini menempatkan Brotosemedi menjadi satu-satunya pendeta jemaat di Klasis Kebumen, karena Klasis Kebumen hanya ada satu pendeta, yaitu Pdt. Hardjoprajitno, pendeta GKJ Kebumen yang dipanggil untuk menjadi Pendeta Utusan Klasis. Penahbisan Brotosemedi di GKJ Gombong dapat dihadiri oleh Bapak-Ibu Wirjo, salah satu pesan Bapak Wirjo adalah: “Broto, wong kang ditetepake dadi pendhita iku kayadene wong menek wit klapa. Dhuwur, tur ora ana pange. Mulane kudu ngati-ati. Yen ora, kowe bakal keplorot, lan ora bisa munggah maneh. Ya kaya ngono kuwi pendhita. Pendhita iku uga kaya wong kang lungguh ing kursi kang dhuwur. Sapari-polahmu bisa dideleng karo kabeh uwong. Mangkono uga pendhita, sak pari-polahmu iya ditonton uwong. Mulane ati-ati kowe dadi Pendhita.” Hal yang juga khas, Brotosemedi dalam penahbisan itu meminta agar dia diizinkan untuk tidak mengenakan toga (jubah), tapi cukup mengenakan jas lengkap. Lewat penahbisan ini Broto telah membuktikan baktinya, terutama kepada Ibunda tercinta, yang kurang lebih setahun kemudian pada tangggal 16 Maret 1963 meninggal, dan di makamkan pemakaman Kristen Desa Tlepok.

 

Pdt. Brotosemedi pernah menulis surat langsung kepada Presiden Soekarno untuk mengajukan permohonan agar gedung yang dijadikan rumah tinggal Kepala Sekolah SMP N2 Gombong dikembalikan kepada ahli waris pemiliknya yang sah, yaitu GKJ Gombong. Setelah Bapak Rusman meninggal, maka rumah yang ditempatinya tersebut diserahkan kembali kepada GKJ Gombong. Diatas tanah pastori yang membentang luas disamping kanan pastori ini, atas prakarsa Panitia Pembangunan Gedung Gereja GKJ Gombong, maka didirikan gedung kebaktian bagi GKJ gombong, sebagai ganti gedung gereja yang ada di Wero.

 

Untuk membentuk suatu jemaat yang saling mengasihi, memiliki percaya diri yang besar, dan bersemangat bergereja yang tangguh, Pdt. Brotosemedi melakukan perkunjungan rumah ke masing-masing warga sedapat mungkin empat keluarga setiap minggunya.

 

Pada tahun 1965, Majelis Gombong meluluskan Pdt. Brotosemedi, memenuhi panggilan Satya Wacana untuk mengajar mata kuliah Agama Kristen dan Filsafat Manusia di berbagai fakultas yang sudah dimiliki. Namun pada tahun 1966, Pdt. Brotosemedi mempunyai tugas utama untuk merintis pembukaan Fakultas Theologia. Tugas ini tidak mudah karena di Yogyakarta sudah ada Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana. Pdt. Brotosemedi mulai merancang matakuliah-matakuliah yang akan disajikan dan masing-masing pengampu di masing-masing semester di Fakultas Theologia jenjang Sarjana Muda. Pada tahun 1969, dibukalah Fakultas Theologia Satya Wacana, dengan Pdt. Brotosemedi sebagai dekannya yang pertama. Untuk tampil sebagai guru yang baik bagi mahasiswanya, Pdt. Brotosemedi dalam kuliah-kuliahnya senantiasa memberikan kebebasan kepada mahasiswanya untuk menggunakan nalarnya tanpa takut berbeda pendapat dengan dirinya. Sebagai seseorang yang disampiri jabatan sebagai seorang pendeta, Pdt. Brotosemedi tidak pernah lari dari tugas kenabiannya. Setelah Fakultas Teologia mencapai usia genap beberapa tahun, Pdt. Brotosemedi mendapat kesempatan (tugas) untuk study lanjut bidang doctor teologi di Vrij Universiteit Nederland, suatu universitas tua yang memiliki tradisi pendidikan teologi yang sangat handal. Walaupun program Doktoral tersebut tidak sampai terselesaikan, namun tidak membuat Pdt. Brotosemedi patah di tengah jalan. Buah renungan dan arus pemikiran yang sedianya dituangkan dalam disertasinya secara sistematis sering dikemukakan dalam sajian seminar-seminar, baik di dalam maupun di luar kampus. Bahkan ada sebagian yang kemudian dijadikan sebagai dasar dari Pokok-Pokok Ajaran GKJ. Sejarah membuktikan bahwa buah pemikiran dan permenungan Pdt. Brotosemedi tidak pernah menggoncangkan iman gereja.

 

Dalam Sinode X GKJ yang diselenggarakan pada tahun 1967, Pdt. Brotosemedi mulai tampil dalam jajaran elit Sinode GKJ. Pdt. Brotosemedi duduk sebagai salah satu Moderamen Sinode GKJ, menjadi Ketua Deputat Pelayanan Sinode GKJ, sekaligus duduk dalam Komisi Kejemaatan, Visitasi, dan Ujian Peremptoire, serta anggota Komisi Oikoumene. Pdt. Brotosemedi juga ditunjuk sebagai Tim Penyusun Buku Pedoman Katekisasi. Dalam Sidang Sinode XII GKJ, kembali Pdt. Brotosemedi terpilih sebagai salah seorang Deputat Penyelidikan (studi) dan ditunjuk sebagai Panitia Kecil Konsep Struktur Kedeputatan. Pada Sinode XIV GKJ yang diselenggarakan tahun 1975, Pdt. Brotosemedi kembali menjadi anggota Deputat, Ketua Deputat Pelayanan untuk Persekolahan dan Perguruan Tinggi, menjadi anggota Revisi Tata Gereja GKJ dan Tim Kotbah Jangkep untuk Sinode Wilayah III. Dalam Sidang XV GKJ, Pdt. Brotosemedi juga ditunjuk menjadi anggota Deputat Pelayanan, dan masih dipercaya bekerja dalam Tim Revisi tata Gereja, Tim Konsep Pola Pengembangan Gereja. Kiprah Pdt. Brotosemedi di aras sinode berakhir sesudah daur Sinode XV GKJ tahun 1976

 

Tanpa menyandang gelar doctor akademis-yang arti primernya ‘sang pengajar’ – juga tanpa gelar doctor honoris causa dari pendidikan teologi manapun, Pdt. Brotosemedi lewat PPAG GKJ benar-benar telah menjadi sang pengajar sejati. ***


Sumber: 80 Tahun Pdt. Brotosemedi Wirjotenojo Selembut Sutera Sekeras baja

Oleh: S.H. Soekotjo

Terbitan: TPK Gunung Mulia dan Lembaga Study dan Penelitian GKJ tahun 2010

 


Share this :

Berita "Resensi Buku" Lainnya