BIOGRAFI TOKOH GKJ SERI 5

 

NATHANAEL DALDJOENI

 

Orang Kritis Yang Gelisah

 

 

 

Nathanael Daldjoeni lahir pada tanggal 11 Juni 1925 sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Bapak Mantir Soegijo Justinus Atmoseodomo dengan Ibu Mikah Pasoerjan. Ketika memasuki masa sekolah, Nathanael disekolahkan di Hollansche Javaanse School (HJS) Mid den Bijbel Koelon-Bintaran, setelah lulus melanjutkan ke Christelijk Hollands Inlandse Kweekschool Solo (Chr. HIK, Sekolah Guru), setelah sebelumnya masuk ke kelas persiapan di voorklas MULO. Lulusan sekolah ini pada masa republik, diakui setara dengan Sekolah Guru B. Nathanael hanya sempat menikmati bangku Christelijke HIK Solo selama dua tahun (1940-1942) karena atas perintah pemerintah pendudukan Jepang semua sekolah apapun bentuknya harus ditutup. Tapi kemudian setelah dibuka kembali, Nathanael akhirnya dapat lulus dari Sihang Gakko dengan mendapatkan ijazah resmi.

 

Di Sihang Gakko inilah Nathanael bertemu pertama kali dengan tokoh Kristen Jawa Tengah, yaitu Bapak Oeripan Notohamidjojo ( rector Magnificus UKSW Salatiga yang pertama) yang kala itu ditunjuk pemerintah pendudukan Jepang sebagai Kepala Sekolah Sihang Gakko. Nathanael sejak kecil sangat menyenangi pelajaran aardrijkskunde (Ilmu Bumi).

 

Setelah menyelesaikan sekolahnya di Sihang Gakko Solo, Nathanael mengawali pengabdiannya di dunia pendidikan dengan menjadi guru sekolah dasar versi Jepang di Bandung, namun sejak Jepang menyerah kalah dalam Perang Dunia II, maka Nathanael kembali ke Yogyakarta. Di tanah kelahirannya, Nathanael diterima mengajar sebagai guru di SMP BOPKRI sambil melanjutkan sekolah di Sekolah Guru Menengah Tinggi, oleh karena sekolah tersebut ditutup, maka terpaksa Nathanael mengikuti ujian ekstranae di SMA Jurusan Sastra dan dinyatakan lulus.

 

Nathanael dipercaya menjadi Kepala Sekolah di SMP BOPKRI, sambil mengikuti kuliah di Fakultas Sastra Paedagogiek dan filsafat UGM, mengambil jurusan Pendidikan. Tingkat propaedus bisa diselesaikan pada tahun 1952. Kembali Nathanael mendapat tawaran mengajar di Sekolah Guru Atas (SGA) BOPKRI, dan berikutnya menjadi Kepala Sekolah SGB BOPKRI. Tahun 1955 di GKJ mergangsan Yogyakarta Nathanael menikah dengan Kismi.

 

Pada tahun 1957, Nathanael dialihtugaskan menjadi Guru Biasa di SMA BOPKRI 2 Sore, bersamaan dengan hal itu, Nathanael melanjutkan studynya di Fakultas Geografi UGM. Sejak kembali di Yogyakarta dengan kegiatan mengajar dan sekolah, Nathanael kembali menyatu dengan teman-temannya khususnya para pemuda remaja GKD Gondokusuman membentuk organisasi pemuda pelajar Kristen Yogyakarta yang diberi nama Pelajar Kristen Mataram disingkat PELKRIMA.

 

Beberapa pemuda gereja yang sudah menjadi mahasiswa mendirikan Gerekan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Yogyakarta.

 

Sejak September 1964, Pak Nathan meninggalkan SMA BOPKRI 2 dan Yogyakarta untuk mulai bekerja di PTPG Salatiga. Sambil menunggu dibukanya jurusan geografi, Pak Nathan ditugaskan mengajar di beberapa fakultas yang ada diantaranya di Fakultas Pertanian, Fakultas Biologi, Fakultas Hukum, bahkan di Fakultas Theologia dan di jurusan Sejarah FKIP. Oleh kerja keras pak Nathan, Jurusan Sejarah Satya Wacana memiliki Mata Kuliah Khas, yaitu: Historical Geography (Geografi Kesejarahan).

 

Drs. Nathanael Daldjoeni adalah salah satu warga gereja awam yang memiliki andil yang cukup besar bagi kebesaran Sinode GKJ. Sejak Sinode X GKJ sampai dengan Sinode XVIII GKJ-sembilan kali daur ulang sinode-Drs. Nathanael Daljoeni selalu menjadi salah satu anggota Deputat Sinode, yaitu suatu kelompok orang yang dipercaya GKJ untuk melaksanakan keputusan-keputusan Sidang Sinode GKJ. Disaat yang sama dengan daur Sinode X GKJ, Drs. Nathanael Daldjoeni juga menjadi anggota Dewan Presidium Yayasan Trukajaya- bahkan sebagai orang pertama dalam yayasan tersebut-bersama Ds. Basoeki Probowinoto, Dr. Haryono Semangun, dan Bp. Soepeno Sastrowijono, BA. Pada Sinode X GKJ ini pula Drs. Nathanael Daljoeni juga menjadi anggota Komisi Studi Kemasyarakatan Sinode GKJ.

 

Dalam Sinode GKJ XIV GKJ tahun 1975, dipercaya sebagai Ketua Deputat Keesaan, Studi dan Penelitian, juga sebagai ketua Komisi Lima yang bertugas menyatukan Lembaga Pelayanan Kristen. Disamping itu juga  duduk dalam Komisi Sekolah Minggu Sinode GKJ serta sebagai anggota delegasi Musyawarah GKD-GKN, dan menjadi pengurus LPK Yogyakarta Unsur GKD.

 

Dalam Sinode XV GKJ tahun 1976, nama Drs. Nathanael Daldjoeni muncul sebagai salah satu anggota Tim Konsep Pola Pengembangan Gereja. Dan dalam Sinode XVI tahun 1978 ditunjuk sebagai Ketua Deputat Studi, anggota Komisi Bersama Persekolahan, dan wakil GKJ di Lembaga Pendidikan Kader unsur GKJ.

 

Pada Sinode XVII GKJ, Drs. Nathanael Daldjoeni dipercaya sebagai Sekretaris Deputat Keesaan, Ketua Pengurus LP3K Sinode GKJ dan GKI SW Jateng. Dan di Sidang Sinode XVIII GKJ tahun 1987, Drs. Nathanael Daldjoeni berada di Deputat Studi dan Penelitian, dan dalam Pra Lembaga Studi dan Pengembangan Sinode GKJ. Tahun 1989, Drs. Nathanael Daldjoeni menjabat sebagai Ketua, dan menjadi salah satu penulis Buku Benih Yang Tumbuh GKJ.

 

Sesudah itu karena sakit yang berkepanjangan, sejak tahun Sembilan puluhan nama Drs. Nathanael Daldjoeni mulai menghilang. Drs. Nathanael Daldjoeni meninggal pada tanggal 6 November 1998, dimakamkan di makam Utaralaya Godean Yogyakarta. Namun jejak pengabdiannya dalam Sinode GKJ tidak mungkin dihapus dari GKJ.

 

 

 

 

 

Sumber : Biografi Tokoh GKJ seri 5

 

Nathanael Daldjoeni Orang Kritis yang Gelisah

 

Oleh: S.H. Soekotjo

 

Penerbit: TPK Gunung Mulia Yogyakarta dan lembaga Studi dan Penelitian GKJ tahun 2010

 


Share this :

Berita "Resensi Buku" Lainnya