Bahan Pekan Keluarga 2011 - Rancangan Khotbah

MENGUPAYAKAN IDENTITAS HIDUP BERKELUARGA DENGAN GEMBIRA 

9 OKTOBER 2011

Bacaan:

Bacaan 1                              : Yesaya 25:1-9            

Mazmur Tanggapan        : Mazmur 106:1-6, 19-23

Bacaan 2                              : Filipi 4:1-9

Bacaan 3                              : Matius 22:1-14

Tujuan :

1.         Jemaat memahami bahwa kebahagiaan dikehendaki oleh Tuhan terjadi dalam setiap keluarga.

2.         Bahwa kebahagiaan keluarga dapat digapai ketika hidup berkeluarga dijalani dengan sukacita.

3.         Sukacita dalam menghayati hidup berkeluarga adalah dengan menghayati posisi dalam keluarga sesuai kehendak Kristus, yaitu memberikan yang terbaik dari diri untuk keluarga

TAFSIRAN  BACAAN

Yesaya 25 : 1-9

Kitab Yesaya sering dipahami terbagi tiga bagian, yaitu bagian yang berupa Firman Tuhan sebelum, saat dan setelah peristiwa pembuangan (proto pasal 1-39, deutero pasal 41-55 dan trito 56-60). Bila mengikuti pemahaman ini, maka bacaan pertama ini merupakan nubuatan, perihal Allah yang akan menolong, saat umat dalam situasi tertindas. Sang penindas akan ditaklukan. Situasi gelap akan sirna diganti terang. Kenyataan demikian menguatkan umat walaupun mesti menjalani satu keadaan yang memprihatinkan (dibuang). Namun bila perkembangan studi tafsir akhir-akhir ini yang diikuti, maka bacaan ini tidak bersifat nubuatan melainkan buah refleksi kreatif penuh iman dari Sang Penulis perihal situasi jamannya, di mana kekuatan-kekuatan besar yang bersilangan di atas negeri Israel saling bertarung dan saling gugur satu di antara yang lain. Setelah Mesir, lalu Syiria, lalu Babilonia, lalu Persia dan akhirnya Roma sebelum dijungkalkan oleh para penunggang kuda sipit dari Mongolia. Sebagai pemuja Yahweh yang bertempat di daerah penyangga tempat kekuatan-kekuatan itu bertarung, penulis Kitab Yesaya berefleksi bahwa kuasa Yahweh tidak akan tinggal diam. Yahweh akan menggeliat, akan bertindak, dan demikianlah kesaksian (penulis) Yesaya, ayat 9, "Pada waktu itu orang akan berkata....inilah Allah kita...". Allah adalah pembawa rahmat bagi umat.

Mazmur 106 : 1-6 ; 19-23

Sangat besar kemungkinan pasal ini adalah liturgi dari ibadat umat Israel. Kalau berpegang pada kemungkinan demikian maka bacaan antara ini bersifat anamnesis. Mengingat apa yang sudah terjadi demi menyerap segenap daya maupun kuasa saat peristiwa-peristiwa (dan tokoh-tokoh) itu berlangsung. Yaitu peristiwa keluaran dari Mesir dan perjalanan menuju tanah perjanjian.Bila pembacaan tertuju pada ayat 1-6 dan 19-23, tampak penekanan yang dikehendaki dari bacaan antara ini adalah kelemahan umat yang kerap mengabaikan Allah berhadapan dengan kasih setia Allah kepada umat.Di samping itu ada nama Musa yang hendak dikedepankan.  Bila Musa kemudian tidak disinggung langsung dalam dua bacaan selanjutnya, maka hal kesetiaan Allah terhadap kelemahan umat nampaknya lebih dipentingkan dalam bacaan antara ini. Bahwa Allah adalah Dia yang senantiasa memelihara umat di waktu baik maupun tidak baik. Kasih setia yang tidak bergantung pada kesetiaan umat pada Allah. Bila umat menaikkan syukur serta menyatakan kepercayaan akan pemeliharaan Allah melalui persembahan dalam peribadatan, Mazmur ini sungguh tepat menjadi dasar firmannya. 

Filipi 4:1-9

Satu bagian Firman yang cukup populer di telinga jemaat. Tanpa perlu menengok situasi jemaat Filipi saat Paulus menuliskan pesan ini, prinsip yang ditawarkan bacaan relatif bisa diterima dan dipahami oleh jemaat saat sekarang. Bahwa dengan syukurkita mampu berdoa dan sebaliknya. Dan ketika doa serta ucapan syukur terlantunkan kedamaian dan kesejahteraan dapat dipastikan teralami oleh si pelaku siapapun dia. Yang dibutuhkan untuk menegaskan prinsip yang relatif jamak ini adalah contoh-contoh dalam pengalaman dan praktek hidup sehari-hari.Misalnya ayat 8, seperti apakah bentuk-bentuk nyata dari hal-hal positif yang disebutkan ini. Diskusi akan bisa panjang saat mencoba menentukan kondisi obyektif ataukan sekedar nilai-nilai abstrak yang dikehendaki oleh Paulus dalam ayat ini. Belum lagi kenyataan relatifisme waktu, tempat dan aktor dari sesuatu hal yang dikategorikan sebagai positif. Sebagai satu petunjuk bagi cara hidup yang sudah diperbaharui oleh Tuhan, bacaan ini patut diperhatikan.

Matius 22 : 1-14

Bila dari tiga bacaan terdahulu dapat ditarik benang merah: ‘Sukacita umat karena iman akan kesetiaan Yahweh', maka pada bagian Injil seperti berbeda suasana dengan tiga bacaan di depan. Mengapa?Karena sepintas kesan yang timbul bukanlah suasana sukacita, melainkan seorang Tuan (raja) yang sedang mutung dan ngamuk menghukum para mitra kerabat, yang meremehkan undangannya. Walaupun dapat memaklumi kekesalan si tuan, kesan ngeri dan jerih tidak bisa ditutupi dari pembaca. Peluang menepis kengerian dan menemukan simpul kesinambungan dengan benang merah atas bacaan terdahulu, kita dapatkan pada keterangan Matius bahwa bacaan ini adalah perumpamaan serta tanggap darurat raja atas situasi dan kondisinya. Memang raja murka, undangan diabaikan dan para hambanya diperlakukan dengan tidak layak, tetapi yang jelas, hajatan kawin tetap jalan, dan demi berlangsungnya hajatan itu, semua orang (baik atau jahat) diundang raja. Disinilah letak kesetiaan Tuhan, walaupun ada yang mengecewakan tetapi Ia tetap membagi dan menebar undangan (kepada manusia) untuk ikut serta dalam perjamuan sukacita yang Ia selenggarakan. Begitu murah kasihNya sehingga tidak mematok prasyarat tertentu untuk dapat diundang.Murah bukan berarti murahan, karena bagaimanapun juga undangannya adalah sebuah rahmat yang patut untuk dihargai dan disyukuri.Jangan sampai kemurahan Tuhan yang telah berkenan mengundang manusia untuk ikut serta dalam kemuliaan kerajaanNya kita tanggapi sembarangan, apalagi tanpa penghargaan, seperti seorang undangan yang tidak memakai baju pesta. Kasih dan kesetiaan Allah mari kita tanggapi dengan suka cita yang tulus dari dalam hati. Perhatian utama khotbah akan berpijak dari bacaan ini.

Kotbah Jangkep:

MENGUPAYAKAN  IDENTITAS   HIDUP  BERKELUARGA

DENGAN  GEMBIRA

 

              Jemaat terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

              Minggu ini kita mengawali bulan keluarga, di lingkungan jemaat di Sinode GKJ dan GKI Jawa Tengah. Banyak jemaat mengawali bulan keluarga bersama dengan pelayanan perjamuan kudus sedunia. Suasana kekeluargaan sangat terasa. Minggu lalu jemaat Kristen sedunia kita memperingati bahwa jemaat Kristen itu keluarga Allah, dan minggu ini mengawali Bulan Keluarga, marilah kita belajar bersama inti tentang hidup keluarga Kristen. Kita rasakan betapa sesungguhnya keluarga Kristen adalah keluarga yang dimiliki oleh Tuhan. Tema minggu ini dan minggu lalu masih berkait dan menyambung.

                Secara khusus kita membaca bacaan Injil dalam daftar bacaan Alkitab hari ini. Perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Bahwa Kerajaan Sorga itu seumpama seorang Raja yang mengadakan pesta besar untuk perkawinan anaknya. Dan oleh kemurahan Sang Raja, Ia berkenan mengundang banyak orang untuk hadir. Akan tetapi bukan menyambut dengan sukacita undangan tersebut, bahkan para tamu yang diundang itu mengelak, mengajukan beraneka alasan untuk menghindar, ketidakhadiran mereka membuat murka Sang Raja. Mereka tidak menghormati kemurahan dan maksud baik Sang Raja yang hendak berbagi kegembiraan.

                Meski murka, Sang Raja supaya  membatalkan pesta. Bahkan memerintahkan mengundang lebih banyak orang lagi untuk ikut serta dalam kegembiraannya. Semua sajian hidangan sudah siap. Sia-sia bila tidak disantap. Maka semua hambanya disuruh untuk mengundang semua orang yang lain. Ada yang hadir ke pesta, akan tetapi pakaian yang dikenakannya tidak pantas. Ia tidak menyiapkan diri untuk hadir ke pesta dengan sepatutnya. Dan kepada orang itu Sang Raja memerintahkan hukuman dijatuhkan. Banyak yang dipanggil, hanya sedikit yang hadir yang siap menanggapi  undangan yang murah hati ini.

                Jemaat terkasih milik Tuhan,

                Bulan Keluarga ini kita menghayati tema: Menghidupi  Identitas  Keluarga.  Dari bacaan Alkitab Minggu ini, kita menerima bahwa identitas pokok hidup keluarga Kristen adalah sukacita dan mengucap syukur. Keluarga Kristen telah menerima undangan dari Sang Raja yang menyelenggarakan perkawinan agung putranya. Sudah disiapkan, dan kita diundang untuk ikut serta dalam perayaan.  Sikap gembira dan bersukacita mestilah menjadi jawaban spontan kita karena diundang ikut serta dalam perjamuan agung. Undangan ini berbeda dengan undangan pesta yang sekarang kita terima, kadang malah membuat sedih dan masalah karena kita sedang tak punya dana  untuk kado ataupun sumbangan.  Tapi kita baca  bahwa Sang Raja tidak mensyaratkan kado atau sumbangan, tapi hanya pakaian yang pantas untuk pergi ke pesta.  Di ayat 10, disebutkan bahwa orang jahat maupun baik, semuanya diundang tanpa pilih. Bawa amplop sumbangan atau kado atau tangan hampa semuanya dinantikan kehadirannya, asal berpakaian yang pantas untuk pesta.

                Demikianlah keluarga kita semua diundang Sang Raja untuk hadir dalam sukacita perjamuan kawin anaknya.  Perkara ekonomi bisa jadi masalah dan perselisihan dalam keluarga, namun bila anggota keluarga tetap mematut diri sebagai keluarga, kegembiraan pasti dapat diraih.  Dalam perumpamaan ini disebutkan, bahkan orang kaya dan terkemuka yang dianggap pantas untuk diundang dalam pesta karena  mereka tidak mengindahkan undangan Sang Raja.  Maka bukan kegembiraan, bahkan sebaliknya hukuman yang mereka dapatkan.  Mereka menghindari undangan Sang Raja, berarti tidak mengindahkan, dengan kata lain meremehkan Sang Raja.  Maka bukan kegembiraan yang didapatkan, melainkan hukuman. Hal ini terjadi bukan karena Sang Raja itu kejam, dan tega membalas dendam serta menghukum. Jelas bahwa kegembiraan itu disediakan oleh Sang Raja dalam pesta perjamuan yang diadakannya. Kegembiraan hidup berkeluarga juga hanya bisa didapatkan dalam persekutuan dengan Tuhan yang berkuasa atas kehidupan keluarga kita.  Kemurahan Tuhan sudah menyiapkan perjamuan dan mengundang  kita semua  untuk bergembira bersamaNya.  Sudah selayaknya keluarga Kristen berbahagia. Kebahagiaan ini kita ungkapkan dengan hadir dan berpakaian pantas untuk pesta. Demikian pula dalam hidup berkeluarga, bila Tuhan menghendaki kebahagiaan dikaruniakan kepada keluarga kita, marilah kita jalani dengan sukacita dan syukur. Termasuk berbahagia juga sekalipun pasangan  kita hidungnya  pesek, ukurannya pendek, berbobot kelas berat, cerewet,... (contoh dapat dicari sendiri...). Syukur juga bahwa anak kita keras kepala, belajar harus ditemani, banyak keinginan yang menuntut dipenuhi dan lain-lain....

                Lho, tunggu dulu. Bagaimana bisa kita bergembira dengan hal-hal yang tak baik seperti  di atas?  Tidakkah itu akan salah dimengerti seakan hal yang buruk tak apa ada dalam hidup keluarga kita! Bacaan kita menceritakan bahwa memang tak ada syarat-syarat untuk hadir dalam pesta perjamuan. Akan tetapi bukan berarti boleh berpakaian seenaknya! Dengan kata lain, bergembira dan mengucap syukur untuk keberadaan keluarga bukan berarti mendiamkan saja serta membiarkan perkara yang buruk dalam hidup keluarga. Sama sekali bukan! Bila anak  tak mau belajar kita bergembira dan bersyukur karena mengingatkan kewajiban kita untuk mendidik anak supaya rajin dan pintar. Tanggungjawab tak ada yang ringan. Sekalipun kewajiban orangtua untuk mendidik anak itu berat, namun menumbuhkan sukacita karena kita tahu, Tuhan sudah mengundang kita. Undangan menjadi orangtua dalam hidup berkeluarga bermakna, bahwa sekalipun berat untuk ditanggung, asal kita menerima bahwa itu adalah dari Tuhan,  kita akan dimampukan untuk dengan kuat kuasa dari Tuhan. Jadi kita tetap dapat bergembira apapun keberadaan keluarga kita. Jadi bukan karena lepas dari tanggungjawab. Tanggungjawab kita adalah memakai pakaian pesta, dan hadir dalam pesta perjamuan Tuhan. Itu berarti kita mematut diri, baik sebagai orangtua, sebagai suami atau istri, sebagai anak, untuk mengerjakan bagian kita sebagai anggota keluarga dengan baik. Kewajiban ini kita jalani dengan sukacita dan syukur, karena saat kita mengerjakannya bukanlah berdasar kekuatan kita, akan tetapi oleh kuat kuasa dan pertolongan Tuhan, melalui undangan yang sudah kita terima dari hamba dan utusanNya.

                Marilah kita  mengupayakan identitas keluarga Kristen dengan gembira. Tuhan sudah mengundang kita. Mrilah kita berangkat dan ikut serta dalam kegembiraan pesta perjamuan kawin Sang Raja, dengan mengenakan pakaian yang pantas. Tuhan memberkati. Amin.

 


TUNJUKAN AKSIMU

16 OKTOBER 2011

   

Bacaan Pertama               : Yesaya 45:1-7

Antar Bacaan                     : Mazmur 96:1-9

Bacaan Kedua                    : 1 Tesalonika 1:1-10

Bacaan Ketiga                    : Matius 22:15-22

 

Tujuan      : Jemaat makin memiliki pemahaman yang benar akan identitas dirinya sebagai  keluarga Kristen dan dinampakkan dalam sikap hidup seturut Kristus.

Dasar Pemikiran

Kita mungkin pernah dengar ungkapan seseorang : "Walah... gajah diblangkoni wae kok, kae kuwi. Isa ojah ning ora nglakoni "        (walah....dia itu seperti gajah yang diberi blangkon. Pandai bicara tapi tidak melakukan) alias No Action Talk Only. Ungkapan itu muncul karena seseorang dinilai bahwa sikap dan tindakannya tidak sesuai atau selaras dengan yang diajarkan. Sikap seperti inilah yang mungkin menimbulkan kekecewaan dalam hidup bersama. Dan kekecewaan yang tidak dapat    "di manage" dengan baik bisa menimbulkan perpecahan atau hal yang tidak baik dalam hidup bersama, lebih- lebih hidup bersama dalam wadah Keluarga Kristen.

Melalui tema kebaktian minggu saat ini kita mau belajar bahwa Keluarga Kristen bukan cuma sekedar embel-embel yang melekat pada pasangan suami-istri, tapi ini juga masalah gaya hidup pribadi dan bersama di mana nilai-nilai, ajaran atau gaya hidup Kristus diberlakukan di dalamnya. Nilai-nilai, ajaran juga gaya hidup Kristus yang diberlakukan itulah yang menjadi identitas/jati diri bersama sehingga tidak ada lagi omongan- omongan "Wong Kristen kok ora ngristeni" (orang Kristen kok tidak bertindak layaknya orang Kristen).

Penjelasan Teks

Yesaya 45:1-7, bagian ini berbicara tentang janji keselamatan dari Allah kepada Israel yang ada di pembuangan. Namun ada yang aneh karena Allah tidak memakai tokoh dari kalangan umat-Nya sendiri sebagai pembebas, tapi malah orang lain yang bagi bangsa Israel adalah orang kafir. Namun orang yang dianggap kafir oleh orang Israel itulah yang Allah tunjuk dan tetapkan sebagai pembebas. Di sini juga ada gambaran bahwa Allah adalah pribadi yang dekat dan menghargai umat-Nya (ayat 4 : Maka Aku memanggil engkau dengan namamu). Pada bagian ini pula berulang kali dituliskan "Akulah TUHAN ....." setelah itu dicatatkan tindakan yang dilakukan oleh Allah bagi umat. TUHAN dalam bahasa Ibrani YAHWEH dan kata YAHWEH dekat dengan kata HAYAH (Inggris : be, to be, to be come; Indonesia : ada, hidup).

Mazmur 96:1-9

Ada ajakan dari pemazmur untuk kita menampakkan rasa syukur kita atas karya Allah, dan rasa syukur itu dinampakkan dalam kehidupan sehari-hari (dalam pikiran, perkataan dan perbuatan) dan juga dalam ibadah. Rasa syukur dalam ibadah nampak dalam kalimat seperti pada ayat 9 : "Berhiaskan kekudusan". Kudus (Ibrani Qadosh: dipisahkan dari yang lain, dibedakan / berbeda dari yang lain) bukan berarti tanpa cacat atau tanpa dosa, tapi perlu dipahami apakah sikap hidup kita itu berbeda dengan kebanyakan orang (dalam hal ini sikap hidup kita yang seturut dengan Allah).

1 Tesalonika 1:1-10

Tesalonika adalah kota pelabuhan kecil. Namun Paulus memuji jemaat kecil di kota kecil (Tesalonika), dan pujian ini bukan karena Paulus dekat/punya ikatan emosi, tapi jemaat Tesalonika layak dipuji, karena tindakan mereka yang mengesankan. Dalam keadaan yang kurang menguntungkan (penindasan yang berat) namun mereka tetap setia pada firman-Nya. Keadaan yang kurang menguntungkan tidak membuat mereka minta dimaklumi. Sikap hidup itulah yang Paulus puji dan bisa menjadi teladan bagi jemaat di sekitarnya.

Matius 22:15-22

Pertanyaan yang menjebak bagi Yesus. Dikatakan menjebak karena yang bertanya adalah orang-orang yang punya akses untuk memberi sangsi, baik sangsi agama maupun pidana (yang mengajukan pertanyaan adalah murid-murid dari golongan Farisi yang merupakan pemimpin agama dan orang-orang kalangan Herodian yang merupakan wakil kelompok penguasa). Melalui jawaban Yesus atas pertanyaan yang menjebak tersebut ada hal yang menarik bagi kita, yaitu:

1.       Ketaatan kepada pemerintah juga wujud nyata ketaatan pada Allah.

2.       Perlu padunya antara perkataan dan tindakan bukannya lain di bibir lain di hati (munafik).

Kotbah Jangkep

TUNJUKKAN AKSIMU

Bapak, ibu, saudara- saudara yang di kasihi Tuhan

Bagi masyarakat Asia nama bukan cuma sekedar  identitas untuk membedakan orang satu dengan yang lain.  Nama di yakini punya "kekuatan" yang bisa berpengaruh pada orang yang menyandangnya. Keyakinan bahwa nama punya "kekuatan" yang bisa mempengaruhi kehidupan seseorang dapat kita lihat pada masyarakat Jawa yang punya istilah "kabotan jeneng", misal : seseorang diberi nama Bambang (artinya : kesatria) yang punya sifat berani membela yang lemah, pantang menyerah, bisa mengendalikan diri. Namun dalam kenyataan Bambang malah bersikap "petakilan" seperti Cakil  ( dalam pewayangan figur raksasa yang banyak tingkah dan mengganggu ) maka dapat dikatakan orang itu kabotan jeneng dan perlu diadakan ritual "malih jeneng". Bagi masyarakat Asia nama bukan cuma dianggap punya kekuatan, tapi nama di yakini bisa menunjuk pada sikap, perilaku atau kepribadian seseorang. Maka orang tua pasti akan memberi nama yang baik pada anaknya dengan harapan akan baik pula kepribadian anak tersebut seperti nama yang disandangnya.

Jemaat yang di kasihi Tuhan,

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungan bacaan-bacaan tadi dengan kotbah bulan keluarga minggu ini? Memang bacaan pada saat ini tidak berbicara tentang nama, namun bukan berarti tidak ada keterkaitan sama sekali antara bacaan dengan penjelasan di awal. Seperti dijelaskan di atas bahwa nama bisa menunjuk pada sikap, perilaku atau kepribadian seseorang dan di sinilah ada hubungan antara makna nama dengan tema kita minggu ini yaitu tunjukkan aksimu yang mau berbicara tentang keteladanan.

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Kristen bukan hanya sekedar nama agama untuk membedakan dengan agama yang lain. Kristen adalah gaya hidup, yaitu gaya hidup yang seturut dengan ajaran dan teladan Kristus. Hidup seturut dengan ajaran dan teladan kristus itulah yang dinampakkan oleh jemaat Tesalonika. Sekalipun mereka berada dalam penindasan yang berat tetapi tidak menyurutkan mereka untuk bersikap seturut dengan teladan Kristus. Karena bagi mereka Kekristenan bukan hanya agama dan ritual semata, tetapi lebih daripada itu. Kekristenan adalah gaya hidup yang berdasar pada ajaran atau nilai-nilai Kristus. Jemaat Tesalonika memiliki pandangan positif terhadap penderitaan, di mana penderitaan dipandang bukan sebagai kutukan melainkan penderitaan berarti mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Bagaimana jemaat Tesalonika mampu bertahan pada nilai-nilai ajaran kristus di sela-sela penderitaan yang berat? Ini dimungkinkan karena mereka memiliki satu hal yang sangat penting dalam hidup yaitu Iman yang tanpa ragu terhadap firman Tuhan. Ini dicatatkan dalam 1 Tes 1:6, "kamu telah menerima firman itu dengan sukacita." Firman Tuhan yang diterima tanpa ragu itu menjadikan mereka mengalami perubahan suasana hati. Dari  suasana hati yang tidak mengenakkan menjadi sesuatu yang melegakan.

Contoh, ketika situasi kehidupan kurang menyenangkan (Misalnya: keuangan keluarga sedang goyah sementara kebutuhan hidup semakin bertambah), kemudian kita mendengar firman bersyukurlah dalam segala hal. Apa tanggapan kita terhadap firman itu? Akankah firman yang kita dengan itu menyukacitakan kita? Atau serta merta kita berucap "Ah tidak mungkin!". Tatkala kita mengatakan tidak mungkin, maka hal itu memperlihatkan bahwa kita ragu terhadap firman yang kita dengar itu. Dan hal ini tidak akan pernah berdampak terhadap suasana hati kita, kita tidak akan pernah menjadi orang yang tegar dalam menghadapi masalah, tetapi senantiasa menjadi orang yang selalu menggerutu bila mengalami masalah.

Karena sikap hidup yang menerima firman dengan sukacita itulah, jemaat Tesalonika menjadi teladan (1 Tes 1: 7). Sikap hidup jemaat Tesalonika memberi inspirasi bagi orang lain yang mengalami nasib yang sama (2 Kor 8: 1-2).

Bagaimana kehidupan kita sebagai keluarga kristen? Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen? Seberapa besar firman Tuhan memberi dampak dalam kehidupan kita, secara dalam menghadapi penderitaan (misalnya penderitaan batin/luka batin, atau penderitaan karena beban ekonomi, dll)

Contoh lain, sebagai istri apa yang akan dilakukan jika suami di PHK, sedangkan kebutuhan hidup semakin bertambah. Akankah sebagai istri memberikan dukungan terhadap suami, dan tetap mengucap syukur atau menggugat cerai dengan alasan suami tidak bisa memberikan nafkah lahiriah.

Mari, jangan cuma kita bicara tentang Kristus tapi Kristus yang akan terus kita hadirkan dalam kebersamaan kita sebagai suami - istri, orang tua, anak-anak juga dengan masyarakat. Sehingga tidak akan terdengar lagi omongan "Wong Kristen kok ora ngristeni." Dan kita menjadi Keluarga Kristen yang tidak kabotan jeneng, karena kehidupan kita boleh selaras dengan nama yang kita sandang. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

 

 

SALING MENGASIHI SEBAGAI ROH YANG MENGHIDUPKAN KELUARGA

23 OKTOBER 2011

Bacaan:

Bacaan Pertama               : Imamat 19:1-2, 15-18

Mazmur Tanggapan        : Mazmur 1: 1-6

Bacaan Kedua                    : I Tesalonika 2: 1-8

Bacaan Injil                         :  Matius 22: 32-46

Tujuan: Setelah mendengarkan khotbah, jemaat merefleksi dan menerapkan sikap hidup saling mengasihi sebagai roh yang membuat keluarga terus merayakan kehidupan.

1.    Dasar Pemikiran

Mother Theresa dari Kalkuta-India menulis bahwa: "Yang jauh lebih buruk dari kemiskinan adalah kehampaan dalam hidup, kosong dan menyadari bahwa tak seorangpun mengasihi diri kita" (dari Kumpulan Pelampung Hati). Inilah krisis terbesar dalam hidup orang dimasa kini, yakni kebutuhan akan cinta kasih. Fenomena yang umum terjadi dalam kehidupan keluarga akhir-akhir ini adalah "suasana  rumah yang kering". Suasana itu ditandai dengan perjumpaan suami-istri dan anak-anak terjadi seperti di sebuah "terminal". Rumah cenderung menjadi tempat singgah sebentar, makan, parkir kendaraan, bertegur sapa hanya seperlunya. Faktor kesibukan kerja, rutinitas, kegiatan masyarakat, seolah semua berjalan seperti mesin otomatis. Perjumpaan di rumah dibatasi oleh waktu, kebersamaan menjadi berkurang, komunikasi cukup diwakili lewat handphone atau catatan. Hubungan keluarga seolah sekedar "memenuhi kewajiban dan kebutuhan hidup harian" saja. Belum lagi bila terjadi masalah yang membuat suasana rumah yang sudah ‘kering' ini menjadi semakin ‘panas' karena konflik suami-istri disebabkan hadirnya PIL/WIL, atau konflik orangtua-anak akibat kurang komunikasi, konflik mertua-menantu karena beda pemahaman. Bila yang terjadi suasana kering dan panas, maka suasana rumah menjadi seperti "neraka". Akibatnya relasi merenggang atau bahkan salah satu memilih berpisah. Apabila situasi yang demikian berkepanjangan maka tidak menutup kemungkinan hilangnya semangat merayakan hidup bersama keluarga. Keadaan yang demikian memerlukan perbaikan, semangat yang baru, suasana yang sejuk dan damai, suasana hidup yang saling mengasihi satu sama lain dengan rela dan sadar. Pemikiran inilah yang menjadi alasan mengapa sikap saling mengasihi menjadi penting dipelihara sebagai roh yang membuat keluarga tetap merayakan kehidupan dengan benar. Melalui perenungan minggu ini penting bagi jemaat diajak merefleksi hidup berkeluarga masing-masing dan berkomiten untuk hidup saling mengasihi dengan sadar dan rela.

2.    Penjelasan Singkat Teks

Imamat 19:1-2, 15-18

Judul pasal 19 adalah "kudusnya hidup". Hidup yang benar adalah hidup yang dijaga, dilakukan dengan sadar dan pertimbangan bahwa hidup kita terhubung dengan orang lain. Tuhan Allah adalah Kudus, itu sebabnya orang yang dipilih mendekat dan pantas hidup dihadapanNya adalah orang-orang yang juga menjaga hidupnya dengan benar dan kudus.  Dalam arti harafiah "kudus" bermakna "suci atau murni". (KJV:  memakai kata "holy": suci, kudus, keramat). Paralel  dengan kata "murni" berarti juga tulus dan tanpa pamrih, tidak munafik.

a.       Ayat 1-2: Firman Tuhan Allah kepada Musa "Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu kudus.

b.      Ayat 15-18: Penjabaran lebih rinci tentang contoh sikap hidup yang mengasihi sesama (sebangsa, orang lain, bahkan musuh), yakni apa yang tidak boleh dilakukan dalam kehidupan bersama orang lain:

-  Perbuatan curang dalam peradilan; membela orang kecil dengan tidak wajar dan terpengaruh oleh orang besar (bisa karena jabatan dan hartanya), seharusnya peradilan dilakukan atas dasar kebenaran.

-  Menyebarkan fitnah ke sana ke mari; karena memfitnah itu berarti juga mengancam hidup orang lain.

-  Membenci saudaramu dalam hati/menyimpan dendam; sebaiknya nyatakan dalam bentuk teguran (diajak untuk bercakap-cakap) secara terus terang, supaya tidak menjadi dosa dan sandungan bagi diri sendiri.

-  Menuntut balas sebagai sikap balas dendam.

Bagian dari kitab Imamat ini merupakan contoh aturan praktis dalam hidup bersama orang lain, baik itu satu rumah, maupun satu suku bangsa dan orang lain yang tidak menyukai kita sekalipun (sering disebut musuh). Asumsinya bila hal-hal di atas diingatkan dalam hidup bersama orang lain, maka sebenarnya dalam hidup nyata sikap curang di peradilan, memfitnah, dendam dan benci adalah hal yang cenderung dilakukan manusia kebanyakan. Oleh sebab itu aturan hidup harian ini diterapkan dalam rangka menciptakan hubungan harmonis dan baik di antara sesama manusia. Keluarga yang dimurnikan/dikuduskan oleh Allah sebaiknya "dipisahkan" dalam hal cara hidupnya dari kebiasaan pergaulan yang keliru di lingkungan tinggalnya.

Mazmur 1: 1-6

Kitab Mazmur 1 merupakan bagian dari kitab kebijakan yang di dalamnya berisi tentang "bahagianya orang yang benar dalam hidupnya, dan nasib orang yang berlaku fasik dalam hidupnya". Dua bagian ini dituturkan bersama sebagai dua sisi yang hendak mengajarkan hikmat hidup orang yang benar dan orang yang fasik pada akhirnya. Orang benar (ay 1-3), dicirikan dengan hidup yang menuruti Taurat Tuhan (menjalani aturan Allah), menjauhi bergaul dengan para pencemooh, memiliki perasaan bahagia (karena apa saja yang diperbuat akan berhasil) dan menghasilkan buah baik. Sementara itu orang fasik (ay 4-5) digambarkan seperti sekam (jerami/dedak). Dalam arti bahwa orang yang berlaku fasik/curang, maka ia tidak akan disukai oleh sesamanya, bahkan Tuhanpun tidak berkenan. Pada bagian akhir (ay 6) dijelaskan bagaimana nasib orang yang benar dan fasik ini di hadapan Tuhan, baik pada masa hidupnya atau masa pengadilan kelak, yakni orang benar akan dikenan Tuhan dan dianugerahi kebahagian batin, sedang orang fasik akan menuju kebinasaan. Bagian yang menarik dalam rangka membangun keluarga yang bahagia, tidak bisa secara instan, melainkan memerlukan proses, seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Kebahagiaan orang benar akan terus mengalami terpaan air, tetapi ia akan mampu bertumbuh dan tidak menjadi layu.

Tesalonika 2: 1-8

Surat rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika yang pertama ini bersifat pujian atas cara hidup jemaat di kota kecil ini. Sanjungan bagi sikap yang berani dalam menyangkal diri sendiri, menjauhi berhala dan memutuskan menerima Injil Yesus Kristus serta bersaksi tentang kebenaran Injil itu. Mengingat bahwa jemaat Tesalonika memerlukan dorongan iman, penguatan dan juga dukungan moral untuk terus mengupayakan hidup dalam kebenaran Kristus, maka Paulus menuliskan juga pengalamannya sendiri dalam hal menjalani sikap hidup benar di dalam Kristus. Ayat 1-8, beberapa pengalaman yang dicatat antara lain, penganiayaan di Filipi (dianiaya, dipenjarakan sebagai Pemberita Injil Kristus). Tetapi Paulus mengimani  bahwa "Allah tidak akan tinggal diam" melihat orang benar. Allah menjadi penolongnya. Paulus yakin benar bahwa dirinya akan ditolong oleh Tuhan Allah, karena apa yang dikatakannya, perbuatannya yang ramah dan hatinya murni untuk menceritakan kebenaran Injil Yesus Kristus. Jadi tidak ada kebohongan, apalagi tipu daya untuk menarik hati orang lain, mengenai ini Allah adalah saksinya. Dengan sikap "kasih" yang iklas inilah Paulus menjalani hidupnya, bahkan dia memberikan hidupnya demi Injil.

Matius 22: 32-46

Bagian dari dialog Yesus dengan orang Saduki tentang Kebangkitan orang mati. Dalam bagian ini penekanan dari ay 32 (Akulah Allah ....Ia bukanlah Allah orang yang mati, melainkan Allah orang yang hidup), menjadi dasar pijak penyampaian dasar hidup yang benar bagi orang yang mengaku keturunan Israel. Karena Allah akan bisa dihayati hanya oleh manusia yang masih hidup. Orang yang hidup, ia bisa merespon/menanggapi rahmat dan perbuatan Allah.

Ayat 34-40: bagian dari dialog orang Farisi dengan Yesus, yakni golongan imam yang terkenal cukup menguasai kitab para nabi terdahulu, dan aturan serta isi Taurat. Pokok percakapannya adalah tentang patokan yang seharusnya dalam  tata kehidupan umat berdasarkan Taurat. Jawaban Yesus cukup diplomatis dan ringkas, tetapi juga mengandung kritik di dalamnya. Yesus menegaskan, ada dua hukum yang nilainya sama dan utama yakni "Mengasihi Allah dan sesamamu manusia". Keduanya harus dilakukan dengan segenap hati  (motivasi yang sungguh-sungguh), segenap jiwa (totalitas batin yang rela dan iklas) dan segenap akal budi (totalitas pertimbangan nilai-nilai faedah/kegunaanya).

Ayat 41-46: pada bagian ini adalah dialog Yesus dengan orang Farisi.  Yesus bermaksud mencari tahu pandangan orang Farisi tentang Mesias. Dalam kerangka relasi kekerabatan dan keturunan siapa Mesias itu? Menurut orang Farisi, Mesias adalah keturunan Daud. Dalam hal ini Yesus menandaskan soal "kedudukan"  dan hubungan yang benar antara Daud dan Mesias. Jikalau Daud menyebut Mesias adalah Tuan, bagaimana mungkin IA adalah anaknya Daud? Catatan akhir ay 46, dan tidak ada yang menjawabNya"...."tidak ada yang berani menanyakan sesuatu kepadaNya".  Percakapan yang tidak berakhir baik dapat terjadi ketika satu sama lain bersikukuh dengan pendapatnya sendiri. Kebenaran dimengerti dalam dua sumber, berdasarkan "catatan kitab dan pengalaman terdahulu" atau "kenyataan yang sedang berlangsung sekarang".

Tiga dialog yang berbeda dari penggalan Matius 22:32-46, didapati inti penting yang melandasi kehidupan kita dalam relasinya dengan Allah dan sesama manusia. Tiga hal mendasar dalam tata kehidupan yang semestinya:

a.          Menyadari bahwa Allah adalah Allah orang hidup, dan hanya orang yang hidup yang bisa merespon perbuatan Allah.

b.         Dalam tata kehidupan ini manusia terhubung pada dua titik poros, yakni Allah yang hidup dan manusia yang hidup. Keduanya menjadi faktor penentu kebahagian hidup. Allah sumber kehidupan, dan bersama manusia yang lain kita merayakan kehidupan. Oleh karena itu relasi yang dibangun seharusnya seimbang dan sama. Dengan motivasi yang sungguh-sungguh, totalitas batin yang rela dan iklas, serta pertimbangan nilai-nilai kegunaannya bagi kehidupan bersama.

c.          Dalam bangunan relasi dan percakapan apapun semestinya tidak dalam rangka mencari klaim kebenaranya sendiri, supaya ada hubungan baik dan kesepahaman. Relasi/kebersamaan dapat terputus dan menjadi renggang ketika kebenaran tidak terjembatani antara yang tertulis (teori tentang tata kehidupan), dengan kenyataan yang berlangsung sekarang.

Beberapa pokok penting yang ditarik dari teks dalam keterkaitan dengan tema:

Beberapa pokok penting yang dapat menjadi "roh" kehidupan keluarga antara lain:

a.       Kebahagiaan yang menjadi dambaan semua keluarga. Untuk mencapai kebahagian ini diperlukan sikap hidup yang benar dengan menempatkan keluarga dalam lingkungan pergaulan yang tepat. Kebahagian tidak didapat secara instan, melainkan memerlukan proses, ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dihidupi dan dekat dengan sumber kehidupan itu sendiri. Untuk mencapai kebahagian yang sejati, aturan hidup yang benar dan penerapannya diperlukan. Melalui tata hidup yang benar, keluarga dijaga kekudusan hidupnya sekalipun tinggal dalam lingkungan yang "kering dan panas".

b.      Membangun relasi dengan Allah dan sesama dengan dasar pemahaman yang benar supaya kehidupan menjadi tertata baik.

c.       Pengalaman iman yang menumbuhkan keyakninan tentang Allah, bahwa Allah tidak akan pernah diam melihat orang benar menghadapi ragam pergumulan hidupnya.

 

3.    Kerangka Khotbah

Diawali dengan gambaran umum atau ilustrasi tentang keluarga yang "kering dan panas" dalam relasi dan suasana hidup rumahnya.

Sugesti positif dari tiap bacaan dijadikan penjelasan dalam tiap paragraf isi khotbah terutama yang terhubung dengan pokok-pokok tema, antara lain tentang menghidupi keluarga supaya tidak "kering dan panas" dengan cara menghidupi keluarga seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air yakni dekat kepada sumber kehidupan, menaati aturan hidup yang benar, membangun relasi dengan Allah dan sesama, serta belajar dari pengalaman iman agar keyakinan bahwa Allah tidak akan diam melihat tiap keluarga ketika menghadapi ragam permasalahan hidup tiap harinya.

Mendorong jemaat untuk bisa melihat pada kehidupan keluarga masing-masing dan berkomitmen untuk saling mengasihi sebagai roh yang menghidupi rumah mereka. Ajakan ini dapat dilakukan dalam tindakan simbolis saling mendoakan dan saling bergandengan tangan sesama anggota keluarga diakhir khotbah.

4.    Khotbah Jangkep

SALING MENGASIHI SEBAGAI ROH YANG MENGHIDUPKAN KELUARGA

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Mother Theresa dari Kalkuta-India, menulis bahwa "yang jauh lebih buruk dari kemiskinan adalah kehampaan dalam hidup, kosong dan menyadari bahwa tak seorangpun mengasihi diri kita" (diambil dari buku Inspirasi Pelampung Hati). Inilah krisis terbesar dalam hidup orang dimasa kini yakni memerlukan cinta kasih. Fenomena yang umum terjadi dalam kehidupan keluarga akhir-akhir ini adalah "suasana rumah yang kering". Suasana itu ditandai dengan perjumpaan suami-istri dan anak-anak terjadi seperti di sebuah "terminal". Rumah cenderung menjadi tempat singgah sebentar, makan, parkir kendaraan, bertegur sapa hanya seperlunya. Faktor kesibukan kerja, rutinitas, kegiatan masyarakat, seolah semua berjalan seperti mesin otomatis. Perjumpaan di rumah dibatasi oleh waktu, kebersamaan menjadi berkurang, komunikasi cukup diwakili lewat handphone atau catatan. Hubungan keluarga seolah sekedar "memenuhi kewajiban dan kebutuhan hidup harian" saja. Belum lagi bila terjadi masalah yang membuat suasana rumah yang sudah ‘kering' ini menjadi semakin ‘panas' karena konflik suami-istri disebabkan hadirnya PIL/WIL, atau konflik orangtua-anak akibat kurang komunikasi, konflik mertua-menantu karena beda pemahaman. Bila yang terjadi suasana kering dan panas, maka rumah menjadi seperti "neraka".  Akibatnya relasi merenggang atau bahkan salah satu memilih berpisah. Apabila situasi yang demikian berkepanjangan maka tidak menutup kemungkinan hilangnya semangat merayakan hidup bersama keluarga. Keadaan yang demikian memerlukan perbaikan, semangat yang baru, suasana yang sejuk dan damai, suasana hidup yang saling mengasihi satu sama lain dengan rela dan sadar. Pemikiran inilah yang menjadi alasan mengapa sikap saling mengasihi menjadi penting dipelihara sebagai roh yang membuat keluarga tetap merayakan kehidupan dengan benar. Persoalannya adalah bagaimana kita menghidupi keluarga kita terus menerus, supaya suasana yang "kering dan panas" itu tidak terjadi?

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Melalui bacaan minggu ini, kita dapat menemukan pokok penting yang menjadi "roh" yang menghidupkan keluarga kita terus-menerus yakni saling mengasihi. Sikap saling mengasihi itu dinyatakan dengan beberapa cara antara lain:

a.    Bersama  mengupayakan hidup dalam kebahagiaan.

Semua keluarga mendamba kebahagian. Untuk mencapai kebahagian diperlukan sikap hidup yang benar dengan menempatkan keluarga kita di lingkungan pergaulan yang tepat. Kebahagian keluarga tidak didapat secara instan, melainkan memerlukan proses, ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dihidupi dan dekat dengan sumber kehidupan itu sendiri. Demikian juga perlu ditata melalui aturan hidup yang benar. Melalui tata hidup yang benar, keluarga dijaga kekudusan hidupnya sekalipun pada saat tertentu suasana rumah barangkali terasa "kering dan panas". Juru Mazmur menuliskan perihal orang yang berbahagia dalam kehidupan ini, adalah dia yang memilih menjalani hidup sebagai orang benar (ay 1-3). Ia menuruti Taurat Tuhan (menjalani aturan Allah), menjauhi bergaul dengan para pencemooh, memiliki perasaan bahagia (karena apa saja yang diperbuat akan berhasil) dan menghasilkan buah baik. Sebaliknya orang fasik (ay 4-5), digambarkan seperti sekam (jerami/dedak). Dalam arti bahwa orang yang berlaku fasik/curang, ia tidak akan disukai oleh sesamanya, bahkan Tuhanpun tidak berkenan. Sekalipun dalam kenyataan sekarang orang benar, jujur dan menjaga sikap sopan kadang malah dijauhi. Akan tetapi di mata Tuhan nasib orang yang benar akan dikenanNya dan dianugerahi kebahagian batin, sedang orang fasik akan menuju kebinasaan. Demikian juga keluarga yang menjaga sikap hidup benar, ia akan bahagia dalam batinnya sebab ia jauh dari perbuatan dosa.

b.    Membangun relasi dengan Allah dan sesama atas dasar pemahaman yang benar supaya kehidupan keluarga tertata baik.

Tiga dialog yang berbeda dari penggalan Matius 22:32-46, menolong kita mengerti inti penting landasan kehidupan keluarga kita, yakni bangunan relasi yang benar dengan Allah dan sesama manusia. Tiga hal mendasar dalam tata kehidupan yang semestinya diupayakan melalui relasi tersebut adalah:

1.    Menyadari bahwa Allah adalah Allah orang hidup, dan hanya orang yang hidup yang bisa merespon perbuatan Allah. Demikian juga keluarga kita, hendaknya dilandasi keyakinan bahwa Allah yang hidup pasti tidak akan tinggal diam melihat tiap keluarga.

2.    Menghubungkan kehidupan ini pada dua titik poros, yakni Allah dan manusia yang hidup. Keduanya menjadi faktor penentu kebahagian hidup keluarga kita. Allah sumber kehidupan, IA yang akan menata jalan hidup bahagia orang yang dikenanNya. Demikian juga bersama manusia lain kita merayakan kehidupan ini. Oleh karena itu relasi yang dibangun seharusnya seimbang dan sama. Dengan motivasi yang sungguh-sungguh, totalitas batin yang rela dan iklas, serta pertimbangan nilai-nilai faedah/kegunaannya bagi kehidupan bersama inilah hidup semestinya dijalani.

3.    Membangun hubungan baik melalui percakapan, bukan untuk mencari kebenarannya sendiri. Hubungan baik dan kesepahaman menjadi penting dalam keluarga yang damai. Relasi/kebersamaan dapat terputus dan menjadi renggang ketika hanya satu kebenaran yang dipaksakan, misalnya benar berdasar aturan tertulis (teori tentang tata kehidupan) saja, sementara kenyataan yang berlangsung sekarang diabaikan. Mengenai hal ini sikap mengasihi yang nyata dapat dilakukan melalui percakapan yang tidak berlaku curang, memfitnah, berdusta dan menimbulkan kebencian terhadap pasangan, anggota keluarga, anak, menantu atau mertua. Kristus mengajari kita melalui percakapan yang sederajat dan dialog yang terbuka, serta teguran yang terang-terangan. Setiap orang ditempatkan sebagai "pantas dihormati" dan bisa diajak bercakap-cakap secara dewasa.

c.     Memaknai pengalaman iman tentang Allah yang tidak akan pernah diam melihat orang benar dalam menghadapi ragam pergumulan hidupnya.

Kita dapat belajar dari pengalaman Paulus ketika mengalami penganiayaan di Filipi (dianiaya, dipenjarakan sebagai Pemberita Injil Kristus). Dalam penderitaanya, Paulus mengimani bahwa "Allah tidak akan tinggal diam" melihat orang benar. Allah menjadi penolongnya. Paulus yakin benar bahwa dirinya akan ditolong oleh Tuhan Allah, karena apa yang dikatakannya, perbuatannya yang ramah dan hatinya murni untuk menceritakan kebenaran Injil Yesus Kristus. Jadi tidak ada kebohongan, apalagi tipu daya untuk menarik hati orang lain, mengenai ini Allah adalah saksinya. Dengan sikap "kasih" yang iklas inilah Paulus menjalani hidupnya, bahkan dia memberikan hidupnya demi Injil. Jadi pengalaman hidup dalam penderitaan dan pergumulan berat, ketika dimaknai dengan iman, justru membuat seseorang yang benar makin merasakan cara Tuhan mengatasi ragam pergumulan hidupnya. Demikian juga ketika keluarga kita sedang mengalami situasi yang berat, yakinilah Allah tidak akan tinggal diam.

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Sekarang sebagai keluarga-keluarga kristen, kita hendak merefleksi dan menerapkan sikap hidup saling mengasihi sebagai roh yang membuat keluarga kita terus merayakan kehidupan. Saling mengasihi ternyata:

a.    Bukanlah sebuah teori yang cukup dilesankan, atau dibacakan dan didengarkan, melainkan harus diwujudkan dalam laku hidup harian bersama suami-istri, anak, mertua, menantu dan siapapun yang tinggal dalam rumah kita. Sebab setiap orang membutuhkan "cinta kasih" yang nyata.

b.    Bukan berarti membuat aturan main dalam rumah yang berat sebelah sehingga sikap curang, dusta, benci dan dendam bertumbuh didalam hati anggota keluarga.

c.     Bukan berarti memberikan "kebebasan bergaul" pada tiap anggota rumah tangga hingga masuk dalam lingkup orang fasik dan akhirnya "menjadi korban pergaulan yang salah". Sebaliknya mengasihi berarti memberi kebahagian batin melalui pergaulan yang benar dilingkungan orang yang takut akan Tuhan.

d.    Memiliki sikap hati Kristus yang terbuka, melalui dialog dan percakapan yang membangun kesadaran hidup bersama, bukan untuk mengalahkan atau mencari keuntungan diri sendiri, melainkan mendudukan semuanya dalam tata kehidupan yang sederajat, benar dan terhubung dengan Allah dan sesama.

Akhirnya, saudar-saudara,"demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi" (I Tes 2:8). Sekarang saya undang jemaat untuk berdiri, masing-masing berkumpul dengan anggota keluarganya, suami-istri, anak, mertua, menantu, pembantu rumah tangga, siapapun yang tinggal dalam satu rumah saudara. Sekarang dalam barisan keluarga saudara, saling bergandengan tangan. "Kiranya roh saling mengasihi" mengikat makin kuat rumah tangga saudara dalam merayakan hidup bersama orang lain. Sambil berdiri dan bergandengan tangan ucapkanlah komitmen saling mengasihi berikut ini:

KOMITMEN HIDUP SALING MENGASIHI:

DI HADAPAN ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI SETIAP ISI HATI;

KAMI SALING MENGAKUI PERNAH BERLAKU SALAH;  KAMI BERSEDIA SALING MENGAMPUNI;  DAN KAMI BERSEDIA TERUS MENERUS MENGHIDUPI KELUARGA SEKALIPUN PERGUMULAN BERAT SILIH BERGANTI.  BERILAH KAMI DAYA CINTA KASIHMU DAN ROH SALING MENGASIHI DALAM BATIN KAMI YA KRISTUS. AMIN.


MERENDAHKAN DIRI

30 OKTOBER 2011

 

Bacaan Alkitab:

Bacaan Pertama               : Mikha 3:5-12

Mazmur Antar Bacaan   : Mazmur 43

Bacaan Kedua                    : 1 Tesalonik 2:9-13

Bacaan Injil                         : Matius 23:1-12

Tujuan

Jemaat dapat hidup dengan rendah hati dalam menghadapi dan mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan keluargan dengan mengandalkan pertolongan Tuhan.

Dasar Pemikiran

Merendahkan diri bukanlah perkara yang mudah, namun itulah yang harus kita perjuangkan dan berlakukan dalam hidup kita sehari-hari sebagai anak Tuhan. Terutama dalam kita mengahadapi permasalah yang muncul dalam keluarga, baik masalah antara suami - istri, orang tua - anak, maupun antara keluarga satu dengan keluarga yang lainnya.

Bagaimana caranya agar kita dapat mengatasi masalah yang muncul dalam keluarga dengan sikap tetap rendah hati. Diantaranya dengan kita tidak merasa diri paling benar, saling memahami satu dengan yang lain dan tidak menghindari masalah, namun masalah harus dihadapi untuk diselesaikan dengan baik-baik. Atau dalam bahasa Rasul Paulus hendaknya kita  sehati, sepikir dan seperasaan dalam Tuhan. 

Penjelasan Teks

Mikha 3:5-12

Bacaan dari Mikha 3:5-12 merupakan bagian dari Mikha 3:1-12, yang oleh LAI diberi judul : Menentang para pemimpin dan nabi-nabi palsu di Israel. Dari ayat-ayat yang kita baca tersebut dapat kita simpulkan bahwa melalui nabi Mikha, Tuhan mengingatkan para pemimpin Yehuda dan Israel, juga nabi-nabi palsu untuk bertobat dari segala perbuatannya yang menyesatkan umat Tuhan. Mereka yang seharusnya membimbing dan mengarahkan umat untuk dekat dengan Tuhan, namun justru mereka suka membual, mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri. Apabila mereka mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka lakukan akan bersukacita, namun bila mereka tidak mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka lakukan, mereka menjadi tidak senang dan marah, bahkan memusuhi mereka (ayat 5).

Bila para pemimpin dan nabi-nabi palsu tidak bertobat maka Tuhan pasti akan menyatakan hukumannya kepada mereka, para pelihat akan mendapat malu dan tukang-tukang tenung akan tersipu-sipu; mereka sekalian akan menutupi mukanya sebab tidak ada jawab dari pada Allah (ayat 6-7).

Dengan otoritas dari Tuhan, Mikha memperingatkan para pemimpi dan nabi-nabi palsu yang telah bersekongkol jahat agar bertobat dari dosa-dosanya yang telah membengkokkan segala yang lurus, yang mendirikan Sion dengan darah dan Yerusalem dengan kelaliman, yang memutuskan hukuman karena suap, memberi pengajaran karena bayaran, dan menenung karena uang (ayat 8-11). Bila mereka tidak bertobat maka hukuman Tuhan pasti akan dilaksanakan, Sion akan dibajak seperti ladang, Yerusalem akan menjadi puing-puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan (ayat 12).

Mazmur 43

                Mazmur 43 merupakan terusan dari Mazmur 42, termasuk kumpulan nyanyian bani Korah yang meliputi  Mazmur 42, 49, 84, 87, dan 88.  Bani korang merupakan suatu keluarga besar penyanyi, yang muncul di tengah anak-anak Esau (Kej 36:5), dan  keluarga ini pun mulai termasuk dalam silsilahnya (1 Taw 2:43), keluarga ini pun terhitung di antara orang Lewi (Kej 6:21, Bil 25:58 dan 1 Taw 6:7).  Mazmur ini mengungkapkan segenap perasaan jauh dari Tuhan dan memohon pertolongan kepada Tuhan karena merasa tertekan oleh perbuatan yang dilakukan kaum yang tidak saleh, yang telah menipu dan curang. Ia merasa seolah-olah Tuhan tinggal diam terhadap masalah yang sedang dihadapinya (ayat 1-3).

Pemazmur berjanji jika Tuhan menolongnya, maka ia bersukacita dengan pergi ke mesbah Allah, untuk menghadap kepada-Nya, bersyukur atas pertolongan yang diberikan Tuhan kepada pemazmur (ayat 4-5).  

1 Tesalonika 2:9-13

                Rasul Paulus dengan rendah hati menyampaikan kepada jemaat di Tesalonika  bahwa pelayanan yang telah dilakukan selama ini demi pemberitaan Injil Allah. Rasul Paulus dengan penuh kasih menasehati dan menguatkan mereka sebagai saksi Kristus, hidup sesuai dengan kehendak Allah yang memanggil mereka kedalam kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Matius 23:1-12

                Tuhan Yesus tidak senang dan mengecam apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tuhan Yesus mengingatkan agar orang banyak dan para murid-Nya jangan meniru kelakuan mereka. Sebab apa yang mereka lakukan tidak sama dengan apa yang mereka perbuat. Apa yang baik boleh ditiru untuk dilakukan, tetapi yang jelek jangan ditiru (ayat 3).

Beberapa pokok pikiran penting yang dapat kita temukan dari bacaan Alkitab, berkaitan dengan tema khotbah :

                Dari keempat perikop bacaan Firman Tuhan tersebut dapat kita temukan beberapa pokok penting, yaitu sebagai berkut:

1.       Dari bacaan Mikha 3:5-12 kita memperoleh hikmat jika sebagai seorang pemimpin (apa pun dan siapa kita) tidak menjalankan tugas dan kewajibanya sebagaimana mestinya, tidak dapat menjadi teladan, maka Tuhan akan menghukum.

2.       Kemudian dari bacaan Injil Matius 23:1-12, kita dapat menarik kesimpulan bahwa apa yang baik dan berguna boleh kita tiru, namun apa yang tidak baik dan merugikan janganlah kita tiru.

3.       Dari surat 1 Tes 2:9-13, Kita dapat belajar dari keteladanan rasul Paulus, yang telah sungguh-sungguh hidup berpadanan dengan kehendak Allah. Apa yang dilakukannya semata-mata untuk kemuliaan Allah.

4.       Mazmur 43 kita dapat belajar bahwa hanya Tuhan sajalah yang menjadi sumber pertolongan kita satu-satunya.

Khotbah Jangkep

MERENDAHKAN DIRI

Bapak, Ibu, Saudara/i sekalian yang dikasihi Tuhan Yesus, ada istilah yang populer yang sudah muncul beberapa tahun lalu dan yang telah menjadi bagian dari perbendaharaan kata dalam percakan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda, yaitu kata "jaim". Istilah "jaim", memiliki konotasi atau makna yaitu : jaga image atau jaga citra diri. Berkaitan dengan hal tersebut, kecenderung manusia pada umumnya ketika ketahuan berbuat kesalahan bukanya mengakuinya, namun justru berkilah demi menjaga gengsi. Malu kalau ketahuan berbuat salah.

Malu mengakui kesalahan juga merambah dalam kehidupan berkeluarga. Ada contoh kasus, suatu ketika ada seorang bapak yang diketahui selingkuh oleh seorang tetangganya, kemudian "si" tetangga memberitahukan kepada istri dari bapak tersebut. Demikian dialognya :

  • Istri bertanya kepada suaminya : Pak, maaf ibu mau bertanya, apakah benar sekarang bapak mempunyai WIL (wanita idaman lain)?
  • Reaksi dari suaminya, ia menjadi tesinggung dan marah, kemudian balik bertanya kepada istrinya : Siapa yang mengatakan hal tersebut kepadamu?
  • Istrinya menjawab : Bapak tidak perlu tahu siapa yang mengatakan hal tersebut kepada ibu, tapi yang penting dan yang ibu butuhkan adalah jawaban yang jujur dari bapak. Apakah benar atau tidak, kalau bapak telah berselingkuh dengan si "A"?
  • Kemudian suami tersebut menjawab dengan nada meninggi: Begitu saja percaya, apa buktinya kalau aku selingkuh dengan si "A", apakah ibu sudah tidak percaya lagi kepada bapak?
  • Karena istrinya tidak mempunyai bukti, kecuali informasi dari tetangganya dan takut karena suaminya marah, maka istrinya tersebut tidak lagi berani mengungkit-ungkit persoalan tersebut.

Bagaimana dengan kita, akankah kita juga mengakui jika berbuat kesalahan? Ataukah malah justru "jaim", berkilah dengan berbagai macam alasan seperti seorang bapak tersebut di atas untuk  menutupi kesalahan dan supaya dapat menghindar dari permasalahan? Dengan berkilah atau bahkan marah, tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan menambah permasalahan. Namun ternyata ada juga yang justru terang-terangan berbuat salah, bahkan bersekongkol untuk berbuat kesalahan. Pristiwa persekongkolan untuk berbuat kesalahan tersebut dicatat dalam kitab Mikha 3:5-12, dimana para pemimpin dan nabi-nabi palsu suka membual, mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri. Apabila mereka mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka lakukan akan bersukacita, namun bila mereka tidak mendaptkan keuntungan dari apa yang mereka lakukan, mereka menjadi tidak senang dan marah, bahkan memusuhi mereka (ayat 5).

Jika kita perhatikan baik perkataan nabi Mikha mau pun Tuhan Yesus dalam Injil Matius 23:1-12, ada kesamaannya yaitu sama-sama menyatakan ketidaksukaan terhadap perbuatan yang arogan, yang cenderung merugikan orang lain dan yang sesungguhnya sadar atau tidak sadar akan juga berdampak merugikan bagi diri mereka sendiri. Demikian juga dengan perbuatan yang dilakuakan para pemimpin bangsa Yehuda dan Israel (Mikha 3:1) dan nabi-nabi palsu, juga apa yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tuhan Yesus bersabda : "Sebab itu turutilah dan lakukanlah  segala sesuatu atau  yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangalah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:3). Sebab bila mereka tidak bertobat, bukan hanya sangsi sosial yang mereka terima, yaitu dikucilkan dan bahkan dibenci orang lain, namun juga malapetaka, hukuman akan menimpa mereka sebagai akibat dari apa yang telah mereka perbuat.

Demikian juga dengan kita, baik sebagai suami, istri maupun anak, dalam satu keluarga hendahnya saling terbuka bila ada permasalah. Jika suatu ketika atau bahkan mungkin pada saat ini keluarga kita sedang ada masalah, misalnya : anak kita tersangkut masalah narkoba, anak kita menghamili anak orang, atau mungkin ada masalah yang lainnya yang belum terselesaikan? Dengan kita terbuka, jujur satu terhadap yang lain dalam menghadapi permasalahan yang terjadi dalam hidup keluarga, niscaya Tuhan akan memberi jalan keluar.

Bagaimana caranya untuk dapat terbuka, jujur tehadap satu dengan yang lain dalam menghadapi permasalahan :

1.       Bila ada permasalah janganlah dibiarkan berlarut-larut, segera selesaikan.

2.       Hadapi dan sikapi permasalah yang ada dengan bijak,  hati yang tenang dan kepala dingin, orang jawa mengistilahkan "ojo grusa-grusu"

3.       Bila memang salah, akuilah kesalah tersebut, minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.

4.       Dalam menghadapi setiap permasalahan hendaknya dengan rendah hati kita selalu melibatkan Tuhan di dalamnya. Dengan melibatkan Tuhan, pasti akan diberi hikmat untuk menyelesaiakn  masalah tersebut dengan baik. Sebagaimana pengalaman yang diungkapkan oleh penulis kitab Mazmur 43:5 "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Yakinlah bahwa dengan hikmat Tuhan dalam kerendahan hati, menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan yang ada dalam keluarga kita, pasti Tuhan memberikan jalan keluarnya yang terbaik bagi kita dan keluarga. Amin 

Catatan :

Sebagai bentuk tanggapan atas firman Tuhan, diakhir khotbah anggota jemaat diajak untuk melakukan simbolisasi untuk bersedia merendahkan diri dan saling mengasihi di antara anggota keluarga, dengan cara sebagai berikut :

1.             Petugas yang telah ditunjuk membagikan kokard berbentuk hati kepada seluruh aggota jemaat.

2.             Kokard yang sudah dibagikan kepada jemaat yang bersuami - istri dituliskan :

  • Nama suami / istri : ..................
  • AKU MENCINTAI KAMU ISTRIKU / AKU MINCINTAI KAMU SUAMIKU.

3.             Kokard untuk anak dituliskan :

  • Nama orang tuanya : ...............
  • AKU MENCINTAI BAPAK DAN IBU (PAPA DAN MAMA)

 

 


Share this :

Berita "Bahan Pembinaan Rutin" Lainnya