FRAGMEN NATAL: KERETA KE BETLEHEM

Fragmen Lakon "Kereta ke Betlehem"

Judul di atas merupakan visualisasi dari Kebaktian Malam Natal di GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Kebaktian di selenggarakan pada 24 Desember 2012 jam 21.00 wib. Lakon berdurasi 15 menit ini mengambil alur cerita sepasang suamu istri yang ingin pergi berpindah rumah ke Betlehem. Mereka berdua berencana untuk melahirkan anaknya di sana.

Narasi lakon ini diambil dari adaptasi bebas injil Matius 1:18-25. Kisah mengenai kelahiran Yesus namun diinterpretasikan ulang dengan representasi kehidupan masa kini. Sosok Yusuf dan Maria di gambarkan dengan citra seorang tokoh Suami dan Istri, lalu sosok Malaikat di gambarkan dengan tokoh Lelaki Asing. Ketiga tokoh ini mengalami perjumpaan singkat di sebuah stasiun kereta api. Tepatnya percakapan terjadi dibangku stasiun.

Suami dan Istri hendak pergi ke Betlehem dengan kereta. Percakapan terjadi di saat keduanya sedang menunggu kedatangan kereta menuju Betlehem. Istri mempunyai keyakinan bahwa pergi ke Betlehem adalah bagian dari mimpinya. Sebelumnya Istri pernah diberikan penglihatan melalui mimpi bahwa ia seperti mendapat pertanda harus melahirkan di kota Betlehem. Di sisi lain Suami selalu membantah bahwa pertanda itu hanya mimpi bukan kenyataan. Sementara Istri seakan yakin akan mimpi untuk melahirkan ke kota Betlehem, sebaliknya Suami enggan percaya dan meragukan semua keyakinan sang Istri.

Di saat pertengah perbincangan yang penuh gejolak itu, lalu munculah Lelaki Asing yang kebetulan lewat dan duduk di sebelah bangku pasangan suami istri tersebut. Lelaki tersebut ternyata sehabis bepergian liburan ke kota Betlehem. Setelah mendengar percakapan dan ternyata Suami mengalami keraguan dan resah akan tujuan ke kota Betlehem. Ternyata sang Istri nampak terperangah ketika melihat wajah Lelaki Asing ini sama seperti seorang yang hadir di dalam mimpinya. Dalam cerita memang peristiwa dijalin secara kebetulan. Ketiga tokoh ini seolah menjadi percakapan penting seperti Maria, Yusuf dan Malaikat.

Proses percakapan ketiga tokoh  di atas yang di visualkan dalam bentuk fragmen. Keraguan seorang laki-laki yang bernama Suami acap kali sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan lagi persoalan bagaimana wilayah domestic itu hanya milik perempuan saja, namun di saat pengambilan keputusan nilai sebuah pendapat perempuan juga menjadi penting. Istri di sini memang menjadi tokoh kunci bahwa ia mempunyai impian akan kota kecil tersebut. Betlehem menjadi sebuah harapan besar untuk kehidupan yang lebih mantap dan yakin. Karena anak yang sedang dikandung Istri ialah dianggap sebagai anugerah Tuhan. Sama halnya saat Maria meyakinkan Yusuf, bahwa Yesus itu ialah harapan besar akan cinta kasih. Sebuah kelahiran yang memberikan suka cita penuh.

Pesan tersirat dari fragmen ini sebenarnya sederhana saja, di saat pengambilan keputusan yang itu dirasa penting peran siapapun akan semakin lebih menguatkan. Seperti halnya dalam wilayah keluarga siapapun baik istri maupun suami semuanya mendapatkan peran dan posisi yang sama. Dalam pengambilan sebuah keputusan tidak ada lagi perbedaan yang dirasa itu menyangkut wilayah siapa yang berkuasa. Yusuf sebagai laki-laki memang susah menerima kenyataan ketika Maria memperoleh anugerah kehamilan melalui Roh Kudus. Lain hal Yusuf juga tak berhak kemudian menyudutkan Maria ketika memang semua yang terjadi diluar kuasa manusia.  Akhirnya Yusuf memerlukan penguatan dari yang lainya yaitu Malaikat.

Visualisasi ini berdurasi 15 menit sesuai dengan liturgy yang sudah di siapakan. Muncul setelah votum dan salam. Sebelum masuk visualisasi jemaat memang di ajak untuk bernyanyi "Hai Kota Mungil Betlehem". Tiba-tiba saat lagu usai munculah suara deru mesin kereta api yang diawali dengan bunyi lonceng stasiun. Malam itu jemaat GKJ Gondokusuman diajak untuk masuk ke suasana stasiun tempo dulu. Karena suara ilustrasi musik kereta yang dimunculkan adalah kereta diesel tahun 60an. Baju yang dikenakan tokoh Suami, Istri dan Lelaki Asing pun mengacu pada jaman itu. Dengan mengambil setting panggung sebuah kursi yang di tata di depan mimbar. Digambarkan bahwa bangku tersebut adalah suasana bangku stasiun di saat ketiganya sama-sama menunggu kereta lalu percakapan tentang kota kecil Betlehem itu terjadi begitu saja.

Elyandra Widharta

Sutradara/Penulis Lakon "Kereta ke Betlehem"

 


Share this :

Berita "Berita Gereja" Lainnya