LOKAKARYA GEREJA DAN LINGKUNGAN HIDUP

"Eco-Church dan Pengelolaan Sampah dan Energi"

Lokakarya kerjasama antara Sinode GKJ dan Kementerian Lingkungan Hidup  yang akan dilaksanakan pada tanggal 15-17 Juli 2013 dengan mengambil tempat di Wisma Kasih, Jl. Dr. Sumardi 10, Salatiga dan beberapa tempat terdekat untuk eksposure dan pelatihan pengelolaan sampah, ini akan didisain dengan semangat berbagi, belajar dan bekerja bersama.

Mengingat gereja dalam perspektif teologis bisa dimaknai dari dua segi: sebagai ecclesia (yang dipanggil keluar untuk menyatakan kebenaran) yang seolah menekankan pada aspek "perbedaanya" dengan dunia. Gereja tidak berasal dari dunia dan harus memperbarui dunia untuk menuju kehidupan yang lebih baik seperti dari mana mereka berasal (surga). Segi ini sering mendorong gereja hidup dalam keterisolasian dengan dunia, menjaga jarak dengan dunia. Sementara, gereja ini masih hidup dan bergumul dengan dunia ini. Maka, perlu juga melihat segi kedua:oikodomia, suatu upaya membangun dunia supaya bisa didiami menjadi tempat hidup bersama. Dengan semangat membangun dunia ini, gereja selalu mengarahkan kiprahnya untuk memelihara bumi sebagai tempat manusia menyatakan kasih dan berkat Allah (bdg. Kej. 1: 28).

Dengan pendekatan "membangun" yang terarah kepada dunia tempat hidup (inner-worldly spirit), akan memampukan gereja untuk terus memperbaiki dunia. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga pihak lain di luar gereja. Oikodomia merupakan gagasan yang harus dikembangkan oleh gereja sekarang ini ketika hendak mengembangkan konsep eklesiologi. Supaya dengan itu gereja selalu mempunyai perhatian dan pergumulan (concern) dengan lingkungan sekitar di mana mereka hidup dan berada.

Diperhadapkan pada kondisi lingkungan yang berubah sekarang ini, gereja tidak bisa tinggal diam. Gereja harus "membangun", baik pemikiran theologis, tindakan, dan upaya pembinaan warga jemaat, sebagai bentuk pergumulan dan keprihatian gereja terhadap kerusakan lingkungan hidup. Melalui semangat membangun itu akan menumbuhkan gereja yang perduli kepada lingkungan, dan bukan sekadar mengembangkan kehidupan ritual. Atau, gereja yang mampu menyatakan apa yang diritualkan menjadi tindakan nyata, konkrit.

Dilatarbelakangi pemikiran tersebut, Sinode GKJ dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup mengadakan lokakarya (didahului dengan seminar) untuk menumbuhkan gereja yang memperhatikan lingkungan hidup dengan memperhatikan soal pengelolaan sampah dan energi. Tema yang diangkat: Eco-church dan pengelolaan sampah dan energi.   

Hasil yang diharapkan

  1. Konsep eco-church di lingkungan GKJ mulai dikembangkan secara serius dengan mengaitkanya dengan keputusan Sinode GKJ XXVI lalu, tentang GKJ dan lingkungan hidup.
  2. Dokumentasi kegiatan lokal GKJ tentang pengelolaan sampah dan energi dan dasar-dasar teologis yang mengerakkannya.
  3. Konsep pengembangan tindak lanjut tentang eco-church dalam skala lokal, klasikal maupun sinodal.

Seminar akan menghadirkan 3 (tiga) nara sumber, yang melihat dari tiga sudut pandang: agama, teknorat/pemerintah, dan keahlian-praktis. Masing-masing akan memaparkan pemikiran dan/atau pengalamannya dalam soal gereja dan lingkungan hidup, dan lebih khusus pada pengelolaan sampah dan energi. Diharapkan melalui ini peserta memiliki bekal cukup untuk memikirkan rencana pengembangkan praktis di lingkup masing-masing.

Dari sisi teknokratis, akan membahas mengenai kebijakan dan peran pemerintah dalam pengembangan dan pengelolaan sampah. Pemerintah menyadari bahwa sampah tidak selamanya merupakan  "ancaman", tetapi juga potensi. Seperti yang dilakukan di beberapa kota besar, sampah dijadikan pupuk (Malang dan Jakarta). Bahkan, pernah ada gagasan untuk membangun pusat listrik dengan menggunakan sampah sebagai bahan baku. Terlebih dari itu, berbagai pendidikan juga diselenggarakan, baik mandiri atau bekerja sama dengan berbagai pihak. Kali ini perlu juga pemerintah menggunakan agama (institusi keagamaan) sebagai sarana pendidikan warga di bidang pengelolaan sampah. Mengapa pemerintah mengajak lembaga keagamaan dalam soal pengelolaan sampah dan lingkungan? Apakah lembaga keagamaan merupakan lembaga yang cukup efektif untuk pendidikan mengenai lingkungan? Hal ini akan dipaparkan oleh wakil dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Sedangkan dari sisi manajemen sampah: memang betul, kalau dikelola dengan baik sampah akan menjadi salah satu sumber energi dan ekonomi penting, baik skala kecil atau besar. Pupuk organic merupakan salah satu hasil langsung pengelolaan sampah; demikian juga pupuk cair lainnya. Bahkan, sampah non-organik juga bisa menghasilkan berbagai kerajinan yang menghasilkan uang. Lebih dari itu, dalam skala besar, kalau dikelola dengan baik, sampah juga akan menghasilkan panas dan energi lainnya. Topik ini akan dibawakan oleh Ir. Mahendra (Manajer Pondok Remaja Salib Putih, Salatiga)

Untuk sisi theologis, diterangi semangat oikodomia, gereja berperan besar dalam mendorong dan mengembangkan warganya untuk terus memperbaiki lingkungan, baik preventif maupun kuratif. Banyak proses penghijauan, penghutanan cukup efektif karena gereja mampu menumbuhkan pemahaman baru, khususnya theologis. Oleh sebab itu, dalam mendorong  warga mengelola sampah dan lingkungan, ada banyak peluang bagi gereja mengembangkan pemikiran theologis. Oleh sebab itu, sebagai makluk yang berpikir dan beragama, ada baiknya gagasan-gagasan mengenai pemikiran theologis tentang sampah dan lingkungan juga dipergumulkan bersama. Untuk memancing pemikiran itu seorang pemikir theology tentang lingkungan diperlukan. Karena itu Dr. Joas Adi Prasetya akan diundang guna menginspirasi tentang etika lingkungan dan khususnya pengelolaan sampah.

Untuk menjadi "gerakan bersama" para peserta yang diundang adalah utusan klasis se-Sinode GKJ (masing-masing 2-3 orang/klasis) yang mempunyai perhatian dalam soal lingkungan dan sampah, berkomitmen untuk mengembangkannya setelah lokakarya dengan membuat rencana kerja lanjutan (RKL), dengan komposisi peserta diharapkan 30% adalah perempuan dan kaum muda.

Dengan begitu akan ada 66-100 peserta dalam lokakarya ini. Nanti untuk lokakarya akan dipisah ke dalam tiga kelompok yang saling melengkapi: Pengelolaan sampah organik menjadi kompos, pengelolaan sampah organic menjadi energi biogas, dan pengelolaan sampah/limbah menjadi kerajinan dan bahan lain yang bersifat alternatif.

Harapannya dengan lokakarya ini langkah awal Gereja terlibat dalam pembangunan lingkungan yang baik, di mana sampah menjadi salah satu persoalan nyata menjadi sesuatu yang bermakna. Harapanya, dengan dan setelah lokakarya ini gagasan mengenai keterlibatan gereja dalam perbaikan lingkungan akan terus diperkembangkan secara berkelanjutan. Membangun kebiasaan bukanlah hal tanpa makna. Sebab, di dalam kebiasaan itu selalu terkait pengetahuan yang berguna baik peningkatan kesadaran. Kebiasaan adalah pengetahuan praktis.

 


Share this :

Berita "Berita Sinode" Lainnya