ANAK JALANAN

BERTAMBAHNYA ANAK JALANAN , SALAH SIAPA?

(oleh : Ellys Sudarwati. SH, YLPHS )

Perhatian terhadap anak sudah lama ada sejalan dengan peradapan manusia itu sendiri, yang dari hari ke hari semakin berkembang. Anak adalah putra putri kehidupan masa depan bangsa dan negara oleh karena itu anak memerlukan pembinaan, bimbingan khusus agar dapat berkembang baik fisik, mental dan spiritual secara maksimal.

Menurut Konversi Hak Anak, anak adalah setiap manusia yang berusia 18 Tahun, salah ketentuannya adalah Indonesia sebagai negara yang harus memberikan laporan berkala kepada PBB tentang pelaksanaan dari isi konversi Hak anak tersebut. Dan sebagai perwujudan Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002 dimana dalam pasal 1 dinyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih di dalam kandungan. Undang-Undang  yang disahkan oleh pemerintah sebagai perwujudan untuk melaksanakan pemenuhan, pemajuan, perlindungan hak anak bagi seluruh anak Indonesia berlaku bagi semua jenis kelamin, status sosial, agama, ras dan etnis.

Kata "perlindungan" menjadi tekanan dalam upaya pemenuhan hak anak yang diartikan sebagai segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartiipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan  atas tindakan kekerasan dan diskriminasi.

Didalam Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002 dinyatakan bahwa setiap anak-anak dengan prinsip non diskriminatif harus diakui hak sipil dan kebebasannya, pendidikannya, kesehatan dan pengasuhan.

Anak jalanan yang berada dijalan menurut Undang-Undang Perlindungan Anak masuk dalam kotegori anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Pada dasarnya anak membutuhkan perlindungan dikarenakan belum matangnya mereka baik secara fisik maupun mental dan mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap orang dewasa yang mempunyai peran berbeda lainnya. Apapun peran orang dewasa dalam masyarakat wajib memberikan perlindungan bagi anak.

Siapakah anak jalanan ?

Definisi anak jalanan belum jelas. Ada pendapat yang membedakan anak jalanan atau children on the street dan children of the street . Children on the street adalah anak yang secara total berada dijalan karena mereka tidak lagi tinggal bersama keluarganya karena terputus hubungannya dengan keuarganya atau tidak mempunyai keluaga. Children of the street adalah anak yang berada dijalan tetapi masih tinggal bersama dengan keluarganya, tetapi ada juga yang mendefisinikan anak yang berada dijalan sebagai high rish children atau beresiko tinggi dan risk children atau beresiko.

Anak yang berada di jalan ada yang dipekerjakan langsung oleh orang tuanya tetapi terdapat juga yang dipekerjakan oleh kelompok tertentu baik sepengetahuan keluarganya maupun tidak dan pada umumnya adalah untuk menambah pendapatan keluarga.

Kita dapat melihat realitas dikota-kota besar bahwa jumlah anak jalanan semakin bertambah. Beberapa kota dulunya tidak memiliki anak jalanan, namun sekarang ada. Semua anak yang berada di jalan dapat dikatakan rentan untuk mengalami tindak kekerasan, terlebih bagi anak perempuan, mereka renta mengalami tindakan kekerasan sexsual baik dari sesama anak jalanan maupun dari luar kelompok mereka.

Kalau kita lihat anak jalanan khususnya anak perempuan di jalan dengan usia yang berbeda-beda melakukan berbagai kegiatan untuk  memperoleh uang kita dapat membayangkan dampak bagi perkembangan fisik dan mental mereka.

Banyak contoh anak jalanan yang dapat kita lihat dalam keseharian kita :

  • Ibu yang membawa anak/bayi untuk kegiatan mengemis.
  • Anak yang dilepas dijalan untuk mengemis dan mengamen sambil diawasi oleh orangtuanya dari kejauhan.
  • Anak perempuan yang sudah dilibatkan mengemis sambil mengendong anak kecil ( bisa jadi anak tersebut adiknya atau anak yang disewa dengan sistem bagi hasil )
  • Anak kecil yang sudah dilatih untuk minta-minta serta menjadi joki three in one dan bentuk-bentuk lainnya.

Ada dari mereka yang masih sekolah dan ada juga yang tidak sekolah dan secara sengaja dipekerjakan oleh orang tuanya. Yang tadinya sekali-kali tidak diijinkan, lalu menjadi suatu kebiasaan, apalagi dengan absennya anak tersebut dari sekolahan bisa menghasilkan uang. Ketika itulah pendidikan tidak lagi menjadi suatu kebutuhan meskipun pada awalnya si anak sendiri ingin belajar atau sekolah.

Banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh para penyelanggara perlindungan anak, mengingat misalnya pola-pola budaya yang menyebabkan salah satu gender menjadi inferior. Nilai-nilai budaya ini lantas terinternalisasi secara mendalam pada diri si anak. Demikian juga dengan anak jalanan yang sudah terbiasa dijalan akan tersosialisasi dengan kehidupan di jalan dengan berbagai pengalaman tindak kekerasan sexsual padahal mereka belum mencapai kematangan fisik maupun mental. Mereka tidak mengerti bahwa eksploitasi terjadi pada mereka dan mereka menganggap bahwa hal-hal tersebut adalah wajar-wajar saja.

Secara khusus penanganan anak jalanan harus ditangani secara holistik, seluruh sektor dalam pemerintah harus terlibat sehingga masalah anak jalanan tidak hanya menjadi urusan Departemen Sosial semata. Penanganan bukan hanya dalam bentuk penertiban ataupun pemulangan akar permasalahan mengapa anak, terutama anak perempuan, berada dijalan. Meningkatkan pelayanan bagi anak jalanan dengan memberikan bekal hidup untuk mandiri disesuaikan dengan minat dan bakat. Pendampingan untuk hal tersebut dilakukan dengan pendekatan budaya anak jalanan yang terbentuk selama mereka dijalan. Bagaimana melaksanakan sanksi pidana bagi mereka (termasuk orang tua ) yang melakukan eksploitasi terhadap anak .

Kesemuanya itu membutuhkan pemikiran dan perencanaan yang serius dimana penanggulanngan kemiskinan kemungkinan menjadi urutan pertama untuk ditanggulangi baik didaerah penerima maupun daerah asal anak jalanan tersebut. Mengentaskan kemiskinan dengan memberikan pendidikan, kesehatan , pengasuhan, lingkungan yang layak bagi anak  untuk memudahkan meyerap budaya baru.

 

 

Perlu dampingan Hukum ??  Yayasan Lembaga Pelayanan Hukum Salatiga  beralamat di Jl. Dr. Sumardi No. 10 Salatiga ( SINODE GKJ ) , Telp. 0298 - 327138  SIAP  untuk membantu  siapa saja yang membutuhkan  pendampingan hukum dan konsultasi Hukum. Kami Siap melayani dari hari Senin - Jumat , Pukul 08.00 sampai dengan Pukul 16.00 . Pendampingan yang dilakukan adalah : Permasalahan Hukum Perdata (seperti : Perceraian, Warisan, Sengketa tanah, Hutang Piutang dll), Pendampingan Pidana, juga Pengurusan Sertifikat .  Pendampingan  dan konsultasi terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan tanpa memandang : Agama , denominasi , suku, dan wilayah/ kota.  Silahkan datang kami siap membantu, Privacy Klien menjadi tugas utama kami.

 

 


Share this :

Berita "Artikel Lepas" Lainnya