HUT 99 GKJ GONDOKUSUMAN

Kebaktian Perayaan HUT ke 99 GKJ Gondokusuman Yogyakarta

Dalam rangka peringatan HUT ke 99 Gereja Kristen Jawa Gondokusuman Yogyakarta, panitia HUT GKJ Gondokusuman akan menyelenggarakan Kebaktian Perayaan pada tanggal 23 November 2012, pukul 17.00 wib. Bertempat di Gedung GKJ Gondokusuman Yogyakarta JL. Dr Wahidin Sudirohusodo No. 40 Yogyakarta 55222. Kebaktian ini secara khusus menggunakan liturgi ibadah berbahasa Jawa dengan sentuhan inovasi didalamnya. Serta mengundang seluruh jemaat untuk hadir bersama-sama merayakan peringatan tersebut.

Kebaktian Perayaan ini menjadi sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena didalamnya terdapat kesenian tradisional Ketoprak. Fungsi kesenian Ketoprak menjadi visualisasi dari khotbah Pendeta. Jelas akan berbeda dengan kebaktian hari minggu seperti biasanya. Dalam visualisasi nanti Pendeta Fendi Susanto ikut berperan di dalam pertunjukan Ketoprak. Jadi Pendeta ikut masuk melebur bersama dengan para pemain Ketoprak. Proses ini pun menjadi kebersamaan yang menarik. Karena persiapan acara ini memang didukung sepenuhnya oleh Majelis, Diakonia, Pendeta,  dan seluruh Jemaat GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Persiapan khusus untuk latihan ketoprak saja memakan waktu hampir 3 bulan baik untuk latihan gamelan maupun ditokoh pemeranan. Proses latihan ketoprak ini pun memakan waktu cukup lama, karena memang semua pemuda awam dengan proses latihan ketoprak semacam ini.

Ketoprak ini akan diiringi dengan gamelan yang dimainkan oleh kelompok Pradangga Sawokembar. Salah satu kelompok komisi seni dan budaya di GKJ Gondokusuman. Kelompok komisi ini memang didominasi oleh pemuda GKJ Gondokusuman. Secara regular memang mempunyai kegiatan karawitan yang diasuh oleh Bapak Gandung Djatmiko (Dosen Tari ISI Yogyakarta). Jadi Ketoprak yang akan menjadi visualisasi khotbah dengan bentuk Ketoprak konvensional lengkap dengan iringan gamelan. Mengacu pada bentuk garapan ketoprak pakem/konvensional yang berbahasa Jawa sekaligus memegang teguh ruh dan spirit Ketoprak itu sendiri. Hal ini diungkapkan sebagai media pembelajaran kesenian ketoprak untuk anak muda, menyangkut edukasi tentang tata krama, nilai luhur dan santun berbahasa Jawa. Seluruh pemain ketoprak juga didominasi oleh para pemuda gereja ditambah dengan salah satu majelis Pak Bardi dan pendeta sekaligus mendatang pemain ketoprak profesional Bapak Parno. Karena dibagian babak terakhir bersama Pendeta Fendi Susanto muncul berbagai improvisasi adegan yang begitu cair. Spontanitas dan joke-joke dagelan muncul disela-sela adegan pitutur dan piwulang oleh pendeta yang sudah terbiasa memainkan lakon ketoprak dan wayang tersebut. Sementara Pak Bardi salah satu majelis gereja yang merupakan anggota karawitan Wara Prastuti GKJ Gondokusuman itu juga melantukan tembang macapat. Dengan lirik Sekar Maskumambang yang diambil dari intisari Galatia 6 yang berbunyi demikian :

Pra sedulur, kang tulus nggonmu netepi

Yen ana pawongan

Tinemune anglakoni

Nerak kahanane liyan

Sira kudu, bisa nuntun jroning budi

Tulung-tinulungan

Ing bot-repoting myang sesame

Nyata itu kabecikan

Ketoprak dengan judul "Tembang Suluh Padepokan Sawokembar" merupakan karya/sutradara Gandung Djatmiko, yang sekaligus membuat iringan musik gamelan. Tema lakon Ketoprak ini diambil dari pijakan ayat kitab suci dari Galatia 6:2a "Padha Tulung-Tinulungana Ing Bot-Répot". Ayat ini menjadi tema besar Kebaktian Perayaan HUT 99 GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Pendeta dan majelis saat itu seluruhnya menggunakan pakaian tradisional adat Jawa.

Sinopsis Ketoprak

"Tembang Suluh Padepokan Sawokembar"

Dikisahkan disebuah Kraton Jatikendang, seorang Raja yaitu Prabu Nalaseta menginjak usianya yang semakin menua. Ia mulai bimbang dan memikirikan tahta kerajaan yang akan diwariskan kepada kedua putranya Raden Joko Pikukuh dan Raden Jaka Panitis. Prabu Nalaseta berdiskusi dengan istrinya Prameswari jika kelak tahta tersebut layak untuk diwariskan kepada siapa. Ia mengalami kebingungan. Karena kedua putranya tersebut mempunyai kelebihannya masing-masing.

Dipanggilnya Patih Gandamastuti dalam sebuah rapat besar di Kraton Ageng Jatikendang. Hadir di sana Prabu Nalaseta, Prameswari, Raden Joko Pikukuh, Raden Joko Panitis dan beberapa prajurit. Bahwa semuanya sepakat sebelum tahta itu diwariskan ada baiknya Joko Pikukuh dan Joko Panitis diutus untuk menimba ilmu terlebih dahulu. Prabu Nalaseta menyuruh kedua putranya tersebut untuk pergi ke Padepokan Sawokembar. Menemui Bhagawan Sasadara. Nantinya bahwa Bhagawan Sasadara lah yang akan memberikan kawruh untuk dipelajari oleh Raden Joko Pikukuh dan Raden Joko Panitis sebagai cantrik. Disaat perjalanan menuju Padhepokan Sawokembar adegan menjadi semakin memperlihatkan dramatiknya tatkala seorang Begal berkelahi dengan Musafir yang akhirnya ditolong oleh kedua putra kerajaan tersebut. Akhirnya kedua musafir tersebut ternyata mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin ngangsu kawruh ke Padhepokan Sawokembar.

Susunan Pemain :

Gandung Djatmiko sebagai Sutradara/Penulis Naskah/Gamelan

Sudarmadi sebagai Prabu Nalaseta

Lies Aryanti sebagai Prameswari

Elyandra Widharta sebagai Raden Joko Pikukuh

Adista Winascaya seagai Raden Joko Panitis

Triyanto sebagai Patih Gandamastuti

Destri Nawangsah sebagai Begal 1

Yoyo seagai Begal 2

Gani Lingga Saputra sebagai Musafir 1

Yohanes Didik sebagai Musafir 2

Pendeta Fendi Susanto sebagai Bhagawan Sasadara

Pak Bardi sebagai Cantrik 1

Pak Parno sebagai Cantrik 2

Penulis:

*Elyandra Widharta

Jemaat salah satu pemain Ketoprak

Foto: Tim Mulmed Gondokusuman

 


Gambar Terkait :

Share this :

Berita "Berita Gereja" Lainnya