SENI KETOPRAK LITURGI DALAM IBADAH GEREJA

"TEMBANG SULUH PADHEPOKAN SAWOKEMBAR"

Elyandra Widharta

 

Judul "Tembang Suluh Padhepokan Sawokembar" merupakan lakon ketoprak yang dipertunjukan dalam kebaktian perayaan HUT ke 99 GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Lakon ini karya dan sutradara Gandung Djatmiko, salah seorang Staf Dosen Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ketoprak konvensional yang mengkedepankan cerita mengenai tema "saling bertolong-tolongan lah dalam menanggung bebanmu" disarika dari ayat Galatia 6:2a. Ketoprak ini masuk dalam liturgy (tata ibadah gereja) kebaktian peringatan ulang tahun ke 99 yang digelar pada 23 November 2012 di GKJ Gondokusuman Yogyakarta.

Gereja Kristen Jawa dalam hal ini menjadi ruang yang tidak asing lagi bagi masuknya kesenian tradisional. Terbukti ketoprak berfungsi sebagai bahasa ungkap alternatif penyampaian khotbah. Khotbah yang biasanya fungsi ini diemban oleh seorang pendeta, namun disisi lain mampu dikemas dengan sentuhan yang lain dari biasanya. Bukan berarti meniadakan fungsi pendeta, namun justru pendeta pun ikut berperan dalam lakon ketoprak. Model liturgi kebaktian semacam ini menjadi menarik ketika dikelola dengan unsur seni yang baik. Seni sebagai pewartaan indah akan firman Tuhan serasa semakin mudah disampaikan dengan bahasa visual yang indah pula.

 

Sinopsis "Tembang Suluh Padepokan Sawokembar"

Dikisahkan disebuah Kraton Jatikendang, seorang Raja yaitu Prabu Nalaseta menginjak usianya yang semakin menua. Ia mulai bimbang dan memikirikan tahta kerajaan yang akan diwariskan kepada kedua putranya Raden Joko Pikukuh dan Raden Jaka Panitis. Prabu Nalaseta berdiskusi dengan istrinya Prameswari jika kelak tahta tersebut layak untuk diwariskan kepada siapa. Ia mengalami kebingungan. Karena kedua putranya tersebut mempunyai kelebihannya masing-masing.

Dipanggilnya Patih Gandamastuti dalam sebuah rapat besar di Kraton Ageng Jatikendang. Hadir di sana Prabu Nalaseta, Prameswari, Joko Pikukuh, Joko Panitis dan beberapa prajurit. Bahwa semuanya sepakat sebelum tahta itu diwariskan ada baiknya Joko Pikukuh dan Joko Panitis diutus untuk menimba ilmu terlebih dahulu. Prabu Nalaseta menyuruh kedua putranya tersebut untuk pergi ke Padepokan Sawokembar. Menemui Bhagawan Sasadara. Nantinya bahwa Bhagawan Sasadara lah yang akan memberikan kawruh untuk dipelajari oleh Joko Pikukuh dan Joko Panitis sebagai cantrik.

Teks lakon diatas sebagai bagian dari cerita yang akan dikhotbahkan mempunyai muatan yang sederhana. Bahwa jemaat dalam kebaktian ini diajak untuk melihat mengenai proses manusia dalam mengemban sebuah tugas yang sudah diamanatkan. Melalui teks yang sederhana itulah jemaat merefleksikan persoalan yang dituturkan oleh tokoh Bhagawan Sasadara. Karena tokoh itu dimainkan langsung oleh seorang pendeta. Teks inilah yang menjadi pijakan seorang kreator harus bisa mengkomposisikan dengan liturgy ibadah. Jika kebaktian diibaratkan sebuah "pertunjukan", minimal bagaimana mengelola dramatika yang mampu membuat jemaat mempunyai kesan bahwa ini semua bagian dari ibadah persekutuan.

 

Ketoprak Liturgi sebagai Tipe Sosial Teater

Gereja dipandang sebagai persekutuan sosial mampu menghadirkan peristiwa melalui representasi ketoprak. Peristiwa yang dijalin melalui struktur liturgi ibadah yang sudah baku mampu disisipi teks yang kemudian diartikulasikan dengan cara yang lain. Kebaktian menjadi mini pertunjukan yang disaksikan oleh jemaat. Jemaat diajak masuk ke dalam liturgi yang diposisikan sebagai seorang penonton pertunjukan secara tidak langsung. Dalam kajian sosiolog  Shevtosa mengungkapkan bahwa tipe-tipe teater itu mempunyai pengaruh terhadap realitas sosial (Nur Sahid 2008:154).

Gereja ialah bagian realitas sosial bagi jemaat, ketika ketoprak sebagai seni masuk dalam wilayah agama tentunya mampu memberi pengaruh positif melalui nilai dan spirit yang hadir melalui teks lakon tersebut. Ketoprak secara langsung menjadi media pesan melalui kebaktian sebagai pitutur sekaligus piwulang. Ketoprak dengan lenturnya mampu melebur sebagai alat komunikasi alternatif meskipun harus dogmatik. Ketoprak menjadi berfungsi seperti teater yang berbagi kesadaran sosial maupun religiusitas kepada sesama jemaat. Liturgi semacam inilah yang kemudian layak disebut inovatif karena melibatkan kreativitas dari potensi yang dimiliki seluruh jemaat gereja. Berkaitan dengan tipe sosial teater tadi bahwa pengaruh itu muncul dari hasil interaksi seluruh keterlibatan jemaat dalam mewujudkan kebaktian yang alternatif tersebut. Ketika dipahami sebagai sebuah persekutuan gereja bukankah hal ini sudah tersirat begitu nyata. Ketoprak sebagai proses kreatif dipandang mampu mengejawantahkan hal-hal sederhana yang begitu reflektif.

 

Ornamen Liturgi Menjadi Teks "Pertunjukan"

Memang pada kebaktian saat itu pintu sebelah utara gereja disetting dengan sebuah panggung yang luasnya 10 x 6 meter persegi. Mimbar pendeta yang biasa digunakan untuk khotbah mingguan sengaja tidak difungsikan untuk sementara. Seperangkat gamelan pun berada menjadi satu disebelah kanan panggung. Layaknya sebuah pertunjukan ketoprak pada umumnya. Khotbah yang dilayangkan pun menjadi satu dibagian cerita ketoprak, sehingga pendeta ikut berperan di dalamnya.

Ibadah pun menggunakan liturgi berbahasa Jawa. Diawali dengan prosesi ibadah yang menggunakan tarian Jawa. Kedua penari masuk lalu menarikan di panggung kemudian menyambut hadirnya majelis dan diakonia yang masuk dari arah pintu selatan gereja. Penari tersebut menarikan tarian dengan adegan menabur bunga sepanjang mereka mengawal para rombongan tersebut.

Gamelan pun dimainkan oleh dua kelompok, kelompok para orang tua dan lansia "Wara Prastuti" untuk gamelan pengiring seluruh liturgi ibadah dan kelompok karawitan pemuda "Pradangga Sawokembar" untuk musik ilustrasi ketoprak. Ornamen inilah yang saling melengkapi seluruh jalannya liturgi ibadah. Semua menjadi satu bagian visualisasi yang saling melengkapi. Ibadah menjadi sedemikian indah dengan tampilan kreasi yang melibatkan seluruh potensi artistik jemaat GKJ Gondokusuman.

Ornamen menjadi rangkaian narasi yang menyatu dengan pewartaan indah akan firman Tuhan. Firman yang diambil dari Injil yang dikemas dengan budaya. Baik budaya lahir yang nampak pada kostum ketoprak, musik gamelan, lagu/tembang, pakaian adat Jawa yang dikenakan majelis, prosesi pemotongan tumpeng, bangunan gereja, dan bahasa Jawa. Sedangkan budaya batin misalnya khotbah yang disampaikan melalui tutur bahasa dalam pola pengucapan dialog Ketoprak, lalu esensi khotbah yang mampu merema sebagai refleksi jemaat. Pada prinsipnya memang liturgi khusus ini berupaya untuk membuat semua jemaat merasa mengerti dan paham akan pesan-pesan Injil. Mudah untuk diresapi sebagai bagian dari permenungan atau kembali diaktualisasikan dalam sikap dan perbuatan kepada sesamaNya.

 

Penulis:

Aktor di Kelompok Sandiwara Berbahasa Jawa

Komunitas Sego Gurih Yogyakarta

Foto: Rendi Dozer Imani


Gambar Terkait :

Share this :

Berita "Artikel Lepas" Lainnya