PENGHINAAN MERUPAKAN SALAH SATU UNSUR DALAM UJAR KEBENCIAN

PENGHINAAN MERUPAKAN SALAH SATU UNSUR DALAM UJAR KEBENCIAN

(Oleh : Elys Sudarwati, SH )

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), menghina adalah merendahkan, memandang rendah ( hina tidak penting ) memburukkan nama baik orang, menyinggung perasaan orang lain  ( seperti memaki-maki, menista ). Sedangkan Penghinaan adalah proses atau cara perbuataan hina, menistakan ( yang di lontarkan benar-benar keterlaluan ) atau pencemaran nama baik yang dilakukan secara lisan. Penghinaan dalam hukum pidana termasuk dalam kategori kejahatan dan setiap orang rentan dituduh sebagai telah melakukan penghinaan terhadap seseorang. Atas kerentanan itu, maka seringkali seseorang di adukan sebagai telah melakukan penghinaan kepada pihak berwajib. Bagaimana seseorang dilaporkan sebagai telah melakukan penghinaan sesungguhnya sangat subjektif dan karenanya pula sesuatu dipandang atau dirasakan sebagai penghinaan atau bukan tidak terlepas dari penerimaan dari seseorang yang merasa telah dihina oleh seseorang, baik secara lisan maupun tulisan.

Bukan tanpa alasan atau sekadar iseng seseorang membuat ujaran atau kriminalitas kebencian. Walters et. al. menyebutkan faktor utama yang memotivasinya adalah prasangka buruk terhadap orang atau kelompok tertentu. Prasangka ini dapat terbentuk dari sosialisasi dan internalisasi terus menerus oleh keluarga, pihak sekolah, teman-teman, atau orang-orang di sekitar pembuat ujaran kebencian. Tak peduli rekam jejak positif yang dibuat objek ujaran kebenciannya, ia akan tanpa tedeng aling-aling menghakimi orang atau kelompok tersebut. Ujaran kebencian yang dilanggengkan dalam suatu lingkungan tempat seseorang tinggal dapat dipahami pula sebagai upaya membentuk kohesi sosial. Semakin besar level konformitas untuk mengutarakan kebencian, semakin besar kekuatan untuk menjatuhkan kelompok tertentu. Faktor yang lain adalah sebuah konflik atau kekecewaan terhadap tindakan tertentu yang dilakukan si Objek memicu pembuat ujaran kebencian untuk menyatakan hal-hal negatif tentangnya. Bisa saja sebelumnya si Pembuat Ujaran Kebencian tak bermasalah dengan identitas si Objek. Namun, didorong rasa kecewa, ia mencomot identitas pelaku sebagai sasaran dan memprovokasi orang-orang sekitarnya untuk percaya, latar belakang si Objeklah yang membuatnya menjadi musuh bersama. Motif ini bisa dikatakan sebagai motif balas dendam pembuat ujaran kebencian terhadap si Objek. Ujaran kebencian ini menular. Jika seseorang menganggap pembuat ujaran kebencian sebagai sosok yang kredibel, berkuasa, dipanut, atau diyakini setiap ucapannya adalah kebenaran, maka ia akan menyebarkan berita-berita buruk serupa soal objek ujaran kebencian. Tak peduli yang dikonsumsi dan didistribusikannya berita bohong atau opini personal sekalipun, selama ia bisa menyalurkan hasrat mengutarakan ketidaksukaannya, hal itu dianggap sah-sah saja untuk dibaca dan dibagikan. Ada lagi alasan orang membuat ujaran kebencian. Perasaan terancam rupanya ditemukan oleh sejumlah peneliti dalam laporan Walters et. al. sebagai penyebab munculnya kata-kata merendahkan si Objek. Motif ini disebut dengan motif defensif.

Studi yang dilakukan McDevit et. al. (2002) mengindikasikan motivasi lain yang dimiliki para pembuat ujaran kebencian. Perasaan senang atau sensasi adalah sesuatu yang dikejar oleh 66% pelaku yang diteliti McDevit et. al. Menariknya, mereka yang mengejar kesenangan ini bukanlah orang-orang dengan level prasangka tinggi, melainkan orang-orang yang level prasangkanya rendah atau sedang. Dengan kata lain, bukan mereka yang membenci satu pihak sampai ke ubun-ubun yang memiliki motivasi ini, melainkan orang-orang yang sekadar tidak suka atau sentimen sesaat saja yang kerap ditemukan membuat ujaran kebencian.

Memperhatikan rumusan delik penghinaan dalam pasal 207 KUHP , maka elemen pokok dari delik penghinaan itu adalah; (1) barang siapa; (2) dengan sengaja dimuka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang di ada di Indonesia. Dari elemen pokok tindak pidana penghinaan yang dilakukan seseorang itu haruslah dilakukan dengan sengaja dan dilakukan didepan umum baik dengan tulisan atau dalam bentuk lisan. Dalam konteks ini, apakah seseorang sebagai telah melakukan penghinaan atas penguasa atau suatu badan, maka harus dibuktikan terlebih dahulu, apakah dilakukan dengan sengaja atau tidak. Kesengajaan itu secara hukum ada beberapa teori dan yang terpenting adalah menemukan niat pelaku. Sementara terkait dengan elemen delik didepan umum, tentulah tidak sulit untuk membuktikannya, karena bisa dilihat dimana dan dihadapan siapa serta melalui media apa penghinaan itu dilakukan yang pada pokoknya dapat dipadang sebagai sesuatu yang tidak bersifat privat atau bukan area privat. Disisi lain tentu ada beberapa kategori sesuatu yang dipandang sebagai didepan umum.
Kalau kita lihat dalam kasus penghinaan maka pelaku akan di kenakan pasal yang berlapis dari pasal 207 KUHP tentang penghinaan dan juga dalam Nomor 2 huruf (f) dalam  Surat Edaran (SE) Nomor SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech).

Maka bisa dipahami, bahwa meskipun tindak pidana penghinaan tidaklah merupakan kejahatan berat, tetapi untuk membuktikan atau untuk menetapkan tulisan atau lisan yang disampaikan seseorang kepada penguasa atau suatu badan tidak bisa ditetapkan saja dengan begitu saja, melainkan memerlukan sejumlah pertimbangan seperti kajian dari sudut bahasa, pandangan dari sisi nilai budaya (bahkan budaya lokal), pertimbangan dari aspek kebebasan berbicara dan disisi lain fakta atau adanya kebenaran dibalik lisan atau tulisan yang disampaikan dan sejumlah pertimbangan lainnya seperti pengetahuan sipelaku atas apa yang disampaikannya. Tentu juga harus digali niat pelaku dan tujuan yang hendak dicapai sipelaku, apakah benar-benar diniatkan untuk menghina atau mungkin sipelaku tidak memiliki kecakapan dalam berbahasa atau bertutur dan lain sebagainya, sehingga seolah-olah tampak sebagai sebuah penghinaan atau dirasakan sebagai suatu penghinaan. Semoga tulisan ini menjadi berkat untuk kita semua, amin


Share this :

Berita "Berita Lembaga" Lainnya