SEXTING DAPAT DI CEGAH DENGAN SEXEDUCATION

SEXTING DAPAT DI CEGAH DENGAN SEXEDUCATION

( Oleh : Elys Sudarwati, SH, YLPHS )

 

Pada era zaman sekarang perkembangan teknologi telah banyak menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Banyak hal dari sektor kehidupan yang telah menggunakan keberadaan dari teknologi itu sendiri. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi, dan juga dampak negatifnya. Demikian halnya dengan teknologi komunikasi yang merupakan peralatan perangkat keras dalam struktur organisasi yang mengandung nilai sosial yang memungkinkan individu untuk mengumpulkan, memproses dan saling tukar informasi (menurut Rogers,1986). Keadaan yang demikian, dimana sebuah teknologi mampu merubah sesuatu yang belum tentu dapat dilakukan menjadi sebuah kenyataan. Misalnya, kalau dahulu orang tidak dapat berbicara dengan orang lain yang berada di suatu tempat yang berjarak jauh, maka setelah adanya telepon orang dapat berbicara tanpa batas dan jarak waktu.

Dengan teknologi yang sudah maju ada kemudahan untuk mengakses berbagai konten dari mana saja, termasuk melalui ponsel. Namun ada hal-hal yang sebaiknya tidak kita buka melalui ponsel. Salah satunya adalah pornografi. Mengapa? Karena dengan  mengakses konten dewasa lewat ponsel sangat berisiko dan  membuat perilaku serta kebiasaan kita lebih rentan terungkap ke dunia luar dibanding bila menggunakan PC. Menurut perusahaan keamanan cyber, Wandera, sistem operasi di ponsel masih terbuka, sehingga apa yang Anda lihat dan lakukan lewat ponsel dengan mudah terekam oleh berbagai aplikasi pintar. Mungkin anda tidak menyadari bahwa saat ini banyak sekali sistem yang memiliki kecerdasan untuk mengetahui kebiasaan seseorang. Sistem  ini sebagian besar memang bertujuan untuk memasarkan barang pada orang yang tepat. Ia bekerja dengan cara mengumpulkan informasi tentang kebiasaan pengguna. Misalnya, jika Anda suka melihat-lihat situs tentang sepatu, maka saat anda membuka website, iklan yang muncul untuk Anda adalah iklan sepatu, tepat seperti yang anda sukai. Dari situ bisa di lihat, jika iklan yang muncul adalah konten porno, orang jadi tahu kebiasaan Anda kan? Di dunia ponsel, aplikasi-aplikasi cerdas itu lebih bebas berkeliaran. "Sistem operasi smartphone tidaklah seaman desktop. Banyak sekali celah yang dengan mudah bisa dimasuki hacker," menurut pernyataan Wandera. Situs dewasa di tablet (grinvalds) Dalam penelitian terhadap industri porno, Wandera juga menemukan bahwa sekitar 40 dari 50 situs dewasa tidak aman dari malware atau aplikasi penyusup. Artinya, malware tersebut bisa menginstal dirinya ke dalam ponsel lalu mengumpulkan informasi tentang kebiasaan dan identitas pemiliknya. Peristiwa "memata-matai" lewat ponsel itu bukan barang baru. Tahun lalu, situs dewasa Brazzers kebobolan informasi yang berisi data 800.000 penggunanya. Nah, pertanyaannya, berapa banyak orang yang mengakses pornografi lewat ponsel? Apakah Anda termasuk diantaranya? Jika Anda termasuk yang suka melihat pornografi lewat ponsel, sebaiknya kebiasaan itu dihentikan. Karena bisa jadi segala informasi yang anda lakukan melalui ponsel itu bisa tersebar dan diketahui banyak orang.

Seks teks atau biasa disebut sexting merupakan pertukaran pesan digital yang mengandung hal-hal berbau seksual dalam bentuk teks atau gambar. Sexting adalah tindakan mengirim SMS, foto, maupun video cabul lewat HP (ponsel). Ada yang mengomentarinya seperti ini, "Kelihatannya zaman sekarang, ini sudah jadi cara berkomunikasi yang lumrah. Kita saling kirim SMS, terus enggak lama kemudian saling kirim foto panas. Tim profesor psikologi dari University of Calgary menyimpulkan bahwa "sexting sudah menjadi bagian normal dari pengalaman remaja". Pesan mesra dan seksi lewat gadget atau dikenal dengan istilah sexting umumnya dilakukan orang dewasa atau mereka yang telah menikah demi menjaga keintiman hubungan. Namun, dewasa ini, kalangan remaja pun melakukannya. Karena kemudahan teknologi, mereka pun mengirim pesan atau gambar bernuansa seks. Menurut sebuah penelitian, remaja yang gemar melakukan sexting tujuh kali lebih aktif secara seksual dan cenderung berhubungan seksual tanpa pengaman. Hasil penelitian ini merujuk pada pengamatan perilaku terhadap 1.800 siswa di Los Angeles, AS, berusia 12 sampai 18 tahun. Hasil ini mengejutkan karena sexting bukanlah alternatif perilaku seksual yang berisiko. Orangtua harus mencurigai anak-anaknya yang sedang sexting, serta menyadari adanya kemungkinan anak mereka terlibat dalam perilaku seksual lain. Orangtua harus waspada jika anak remajanya aktif secara seksual dan tidak menggunakan alat kontrasepsi. Tidak membenarkan sexting di kalangan remaja mana pun. Akan tetapi, kita perlu memahami hubungan dan perilakunya. Yang paling utama adalah orangtua harus mendidik anak-anaknya dengan baik dan menegaskan sebuah konsekuensi. Pendidikan seksualitas sering dianggap sebagai pengajaran melakukan hubungan seks. Padahal, cakupan dari pendidikan seksualitas sangat luas, mulai dari pengenalan identitas diri dan jenis kelamin, fungsi organ reproduksi, hingga bagaimana merawat dan menjaga kesehatannya. pendidikan seks mencegah perilaku seks bebas, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, hingga pemerkosaan. "Anak-anak kita tidak mendapat pendidikan seksual sejak dini. Sementara orang yang mengincar anak ada di sekelilingnya. Ketika terjadi pelecehan seksual, anak yang tidak tahu menganggap hal itu bukan masalah.

Memang masih banyak orangtua yang kurang terbuka dan tak terlatih membahas seksualitas dengan anak-anaknya. Namun hambatan tersebut bisa dihilangkan, apalagi jika mengingat ada banyak predator yang mungkin mengincar anak kita. Pelakunya bahkan bisa jadi orang dekat anak. Karenanya, penting menanamkan keterbukaan dan komunikasi yang baik dengan anak. Dengan mengajarkan mana bagian tubuh yang bersifat pribadi, mengajarkan mengenai jenis-jenis sentuhan aman dan tidak aman, cara menjaga tubuh, serta menghormati orang lain, sebenarnya orangtua sedang mengajarkan anak tentang pendidikan seksualitas. Seiring bertambahnya usia, pertanyaan anak akan tubuhnya akan semakin luas. Berikan banyak pengalaman komunikasi dimana orangtua tidak melulu memarahi, menghakimi, memojokkan atau bertanya dengan gaya interogasi. Perbaiki cara komunikasi dengan anak sehingga anak dapat dengan mudah bicara. Orangtua perlu lebih banyak mendengar ketika bicara dengan anak. Anak yang mendapatkan pendidikan seksualitas dan memiliki komunikasi yang terbuka dengan orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang lebih percaya diri, mencintai dirinya lebih baik, dan mampu menolak kekerasan. Dengan demikian pelecehan seksual dan kejahatan sexsual yang marak terjadi di kalangan masyarakat akan berkurang. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi kita semua, Amin.


Share this :

Berita "Berita Lembaga" Lainnya