96 TAHUN GKJ MARGOYUDAN

96 TAHUN GKJ MARGOYUDAN

Rasa Manunggal Binukeng Gusti. itulah rangkaian surya sengkala yang tertera di muka Gereja Kristen Jawa Margoyudan (GKJ Margoyudan). Kata-kata ini menunjukkan GKJ Margoyudan berdiri pada tahun 1916, tepatnya 30 April 1916 yang ditandai dengan peneguhan Majelis Gereja. Pada tahun 2012 gereja tua ini genap 96 tahun melayani Tuhan. Ibadah perayaan Hari Ulang Tahun pada tahun ini dilaksanakan secara adat Jawa dan sederhana. Para petugas, termasuk pengkhotbah, mengenakan busana adat Jawa yaitu beskap tanpa keris. Ini semua bertujuan menghayati kebudayaan Jawa yang telah mewarnai gereja ini. Hiasan-hiasan pun menggabungkan tradisi Jawa (rangkaian janur kuning) dan kebiasaan modern (balon warna-warni yang meriah), menjadikan suasana menjadi menyenangkan.

Di bawah guyuran hujan berkat Tuhan, ibadah dimulai tepat pukul 18.00 melalui sambutan dan ucapan selamat datang bagi jemaat oleh Majelis Gereja yang diwakili oleh Pnt. Soeroto. Dengan iringan Gamelan Jawa dan paduan suara Langen Sekar yang secara kreatif meng-arransemen lagu-lagu Kidung, baik Kidung Pasamuwan Kristen Lami maupun Kidung Pasamuwan Kristen Anyar, tata ibadah dan nyanyian menjadi bernuansa "sangat Jawa". Ibadah berlangsung mengalir dengan beberapa petugas yang secara bergantian menjalankan tanggung jawabnya.

Renungan dan refleksi ulang tahun disampaikan oleh Pdt. Em. Edi Trimodoreompoko, S.Th., M.Div. dengan mengambil landasan ayat dari Ratapan 3:21-23. Pdt. Em. Edi Trimodoroempoko terlebih dahulu menyampaikan sejarah singkat berdiri dan berjalannya GKJ Margoyudan dari masa ke masa beserta setiap pelayan dan tantangan yang ada di dalamnya. Tujuannya adalah membuka ingatan dan pengetahuan generasi sekarang akan kekayaan sejarah yang pernah dijalani oleh GKJ Margoyudan. Gereja ini telah mengalami masa-masa yang silih berganti, mulai dari jaman Belanda, jaman Jepang, jaman Orde Lama, jaman Orde Baru, dan sekarang menapaki jaman Reformasi. Pdt. Edi mengingatkan kembali bahwa gereja harus memiliki peran ke dalam dan ke luar. Mengutip dari bacaan Kisah Para Rasul, gereja harus mampu menampilkan Yesus bagi jemaat yang membutuhkan serta menjadi gereja yang disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak lupa Pdt. Edi juga mengingatkan anak-anak muda gereja mengenai tanggung jawab selaku generasi penerus gereja yang handal. Ciri khas Pdt. Edi yang menggabungkan renungan, bacaan, dan nyanyian menjadikan renungan menjadi menyenangkan. Renungan ditutup dengan doa bersama.

Prosesi perayaan ulang tahun ditandai dengan pemotongan Tumpeng yang dilakukan oleh Pdt. Tanto Kristiono, S.Th., M. Min., yang selanjutnya diserahkan kepada Ibu. Edi Trimodoroempoko (Adiyuswa), Ibu Sari Salim (Warga Dewasa), Sdr. Mersha Kurnia Sani (Pemuda), Sdr. Hizkia (Remaja), dan anak Namira (Anak). Kesinambungan inilah yang dimaknai sebagai perjalanan gereja yang tidak pernah putus, selalu baru setiap pagi dan penuh dengan rahmat. Sambutan dari Pnt. Ch. Ayupanta mewakili Majelis Gereja mengakhiri rangkaian ibadah perayaan Hari Ulang Tahun GKJ Margoyudan ke 96 tahun ini. Bersamaan jemaat berjalan keluar, ditayangkan video ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari Pdt. Tanto Kristiono, S.Th., M.Min., Pdt. Nike Lukitasari, S.Th., Pdt. Wahyu Nugroho, S.Si., M.A., dan komisi-komisi di GKJ Margoyudan.

Sugeng ambal warsa Mbah.. Mugi para putra wayah tansah saged nulad pakaryan endah ingkang sampun katindakaken.. Salam..


Reported by : Nickonugroho.


Share this :

Berita "Berita Gereja" Lainnya