140000 Klasis Jakarta Bagian Timur

Pembiakan dari , -
d.a. GKJ Jakarta,
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1,
Rawamangun, Jakarta - 13220
Telepon:  Email: Klasis@
Gereja Dewasa: 9 Pepanthan: 3 Blok/Wilayah: 47/7
Pendeta L: 10  Pendeta P: 4  Jumlah Pendeta: 14
Vikaris: 0  Pendeta Emeritus: 3
KK: 158  Warga Dewasa: 8.376  Warga Anak: 2.723  Jumlah: 11.099


jpg140100 GKJ Jakarta

Tanggal Pendewasaan: 21 Juni 1942
Alamat: d/a. Ibu Yuyun,
Jl. Balai Pustaka Timur No.1,
Rawamangun, Jakarta - 13220
Telepon: 0214893435 Email: gkjjkt@bit.net.id
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/3
Pendeta L: 2Pendeta P: 1 Jumlah: 3
Pdt. Neny Suprihartati, M.Th.; Pdt. Hosea Sudarna, S.Th.; Pdt. Ir. Yoel M. Idrasmoro, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 2
-; Pdt. Em. Dr. Kadarmanto Hardjowasito, Th.M.;
Pdt. Em. Prof. Sularso Sopater, D.Th.
KK:  Warga Dewasa: 2720 Warga Anak: 716 Jumlah: 3436


 

 

 


jpg140200 GKJ Tanjung Priok

Tanggal Pendewasaan: 28 Mei 1993
Alamat: Jl. Cilincing Raya No.50,
Cilincing, Jakarta - 14120
Telepon: 0214400459 Email: tanjungpriok@gkj.or.id
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/0
Pep. Ancol
Pendeta L: 1Pendeta P: 1 Jumlah: 2
Pdt. Andreas Untung Wiyono, D.Min.; Pdt. Wisnu Tri Handayani, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK:  Warga Dewasa: 475 Warga Anak: 184 Jumlah: 659

Profil dan Sejarah

MASA PERINTISAN

Berawal dari sebuah komunitas Kristen yang terdiri dari tujuh kepala keluarga dan lima pemuda yang bermukim di kawasan Kebantenan dan Warakas, dimulailah sebuah perjalanan menjadi sebuah komunitas Gereja mandiri bernama GKJ Tanjung Priok. Dengan latar belakang yang sama sebagai pendatang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka mereka juga ingin beribadah seperti halnya ketika mereka ada di daerah asalnya. Merekapun beribadah di GKJ Jakarta. Namun ada kesulitan yang dialami untuk mengikuti kebaktian Minggu dan kegiatan gerejawi lainnya di GKJ Jakarta. Pada waktu itu, GKJ Jakarta belum mempunyai gedung. Kegiatannya masih diselenggarakan di aula PSKD di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Warga GKJ Jakarta yang tinggal di Tanjung Priok harus menempuh jarak puluhan kilometer setiap ingin kebaktian di GKJ Jakarta. Tempat itu sulit dijangkau karena terlalu jauh dan transportasi masih sulit. Angkutan umum masih jarang sehingga sulit untuk berpergian jika tidak mempunyai kendaraan pribadi. Pergi ke gereja memerlukan ongkos yang tidak murah.

Pada tanggal 12 Oktober 1964, melalui pertemuan keluarga yang dihadiri oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko (pendeta GKJ Jakarta) dan penatua Prapto Setyoko, warga jemaat di Tanjung Priok menyampaikan harapan mereka agar dapat diselenggarakan kebaktian Minggu di Tanjung Priok. Karena kerinduan mereka yang sangat besar untuk mengadakan kebaktian sendiri, maka Majelis bersedia melayani mereka. Kebaktian perdana mereka diadakan di gedung SD Dewi Sartika, Jl. Dusun nomor 4 Tanjung Priok. Kebaktian pertama ini berlangsung Tgl. 7 Pebruari 1965 dengan dilayani oleh Pnt Prapto Setyoko dan jumlah warga hadir sebanyak 15 orang. Ibadah di SD Dewi Sartika ini dilakukan pada sore hari pukul 17.00 selama  7 (tujuh)  bulan. Dan secara resmi tanggal 7 Pebruari 1965 dinyatakan sebagai lahirnya GKJ Jakarta Tanjung Priok. Semakin lama, jumlah kelompok ini semakin bertambah.

Karena keadaan gedung yang tidak memadai, maka warga berupaya mencari tempat ibadah lain yang lebih baik. Atas pendekatan yang dilakukan oleh Bp. Agustinus Haryadhi Admosudomo dengan Majelis Gereja Advent, Jl. Anggrek No 17 Tanjung Priok, akhirnya warga Gereja Kristen Jawa Jakarta Wilayah Tanjung Priok diijinkan memakai gerejanya untuk kebaktian setiap hari Minggu dari pukul 17.00-18.00. Kebaktian pertama pada tanggal 12 September 1965 oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko, dan sejak saat itu pelaksanaan sakramen-sakramen dan pemberkatan nikah dilayankan di tempat ini. Tanpa disadari perkembangan warga sampai akhir tahun 1966 telah tercatat sebanyak 138 orang terdiri dari 72 dewasa dan 66 anak-anak.

TEMPAT IBADAH SENDIRI

Semangat jemaat GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok untuk mempunyai gedung gereja sendiri sangat besar. Mereka berusaha mendapatkan tanah untuk membangun gereja. Kemudian dibentuk Panitia Pembangunan Gereja. Atas usaha-usaha yang dilakukan Panitia bersama warga, pada bulan Mei 1972 diperoleh sebidang tanah dari PT. Pelita Bahari dengan status tanah garapan seluas 884 M2 yang terletak di Jl. Kelapa Dua/ Jl. Cilincing, dan dari pengembangan lebih lanjut  akhirnya  luas tanah  menjadi 1.200 M2. Dengan telah dimilikinya tanah tersebut, Panitia bersama warga semakin bergiat menghimpun dana untuk membangun gereja, dan pada tanggal 12 Nopember 1972 bertempat di tanah gereja diadakan kebaktian mengawali pembangunan gereja dilayani oleh Pnt. Urip Dipotirto.

Pada tanggal 17 Desember 1972 bangunan GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok sudah dapat dipergunakan untuk kebaktian pertama kalinya yang dilayani oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko, dan pada kebaktian itu juga dilayankan  sakramen Babtis Kudus. Jangan membayangkan gedung gereja yang megah seperti sekarang, karena bangunan pertama waktu itu adalah bangunan kayu berdinding "gedhek" (bambu).

Dalam waktu dua puluh tahun berikutnya GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok terus berbenah dalam pembangunan gedung gereja, hingga bangunan gereja menjadi semakin baik dan kokoh. Namun karena status tanah garapan, yang suatu saat bisa diambil alih Pemerintah Daerah, makan Badan Pelaksana Pembangunan Gereja (BPPG) juga berupaya mendapatkan tanah lain untuk antisipasi jika tanah di Kelapa Dua digusur. Tanah cadangan ini akhirnya didapat di daerah Rawa Indah.

PENDEWASAAN GKJ TANJUNG PRIOK

GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok memasuki Masa Pra-kelola atau masa pelatihan mengelola kehidupan berjemaat selama 19 bulan (dari 1 Oktober 1991 s/d Mei 1993), Tidak hanya sekedar untuk memenuhi salah satu syarat kemandirian, akan tetapi betul-betul merupakan pelatihan dan sekaligus pemantapan diri dari semua aspek kehidupan berjemaat dengan melibatkan semua lapisan warga gereja.

Dan setelah melalui proses yang panjang dan rumit, maka gereja ini berhasil dimandirikan pada hari Jumat Pahing, tanggal 28 Mei 1993, dengan nama GKJ Tanjung Priok. Gereja Kristen Jawa Tanjung Priok lahir dengan nomor urut 211 pada  Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa. Semua itu merupakan karya Tuhan yang sangat menakjubkan. Dalam rentang waktu kurang dari 28 tahun Tuhan telah menjadikan jemaat yang mandiri dari sebuah wilayah pelayanan yang kecil dan sederhana. 


jpg140300 GKJ Pangkalanjati

Tanggal Pendewasaan: 31 Mei 1995
Alamat: Jl. Harapan Jaya No.18,
RT.003 RW.012, Kel. Cipinang Melayu,
Kec. Makasar, Jakarta Timur - 13620
Telepon: 0218629366 Email: pangkalanjati@gkj.or.id
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 6/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Aris Widaryanto, S.Th.,M.Min.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK:  Warga Dewasa: 527 Warga Anak: 167 Jumlah: 694

Profil dan Sejarah

Setiap orang memiliki "keunikan", demikian juga gereja, tidak terkecuali GKJ Pangkalanjati. Sebagai sebuah  gereja yang berada di tengah-tengah perkampungan yang cukup padat, GKJ Pangkalanjati memiliki sejarah pertumbuhan dan perkembangan yang unik dan dapat dikatakan pula sebagai gereja yang bertumbuh dan berkembang bersama dengan masyarakat di sekitarnya yang merupakan "kawasan keluarga Gunung Kidul" di ujung Timur DKI Jakarta. GKJ Pangkalanjati meiliki motto: "kecil tapi bernas". 


jpg140400 GKJ Bekasi

Tanggal Pendewasaan: 25 Agustus 1995
Alamat: Jl. Jatiluhur Raya,
RT.001 RW.013, Komp. Pengairan,
Kel. Jakasampurna, Bekasi - 17145
Telepon: 0218840760 Email: gkjbekasi@yahoo.com
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 16/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 2 Jumlah: 3
Pdt. Kartini Astuti, S.Si.; Pdt. Oktavianus Heri Prasetyo Nugroho, M.Si.; Pdt. Temi Setyowati, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Suwandi Martoutomo, S.Th.
KK:  Warga Dewasa: 1900 Warga Anak: 527 Jumlah: 2427

Profil dan Sejarah

GKJ Bekasi pada awalnya adalah sebuah persekutuan kecil dari GKJ Jakarta yang tinggal di Bekasi lebih tepat bisa disebut Peguyuban yang kemudian menjadi Gereja Dewasa pada tanggal 25 Agustus 1995.
Karakteristik Warga Jemaat GKJ Bekasi adalah Jemaat urban yang kebanyakan dari Jawa Tengah, bekerja di Jakarta atau Cikarang namun tinggal di Bekasi Kota. Bekasi adalah salah satu daerah penyangga perumahan bagi masyarakat Jakarta, disamping Tangerang. Jemaat GKJ Bekasi adalah bagian dari masyarakat komuter yang berciri dinamis, dengan mobilitas tinggi, relatif bersikap terbuka. 


jpg

140500 GKJ Pondok Gede

Tanggal Pendewasaan: 02 Nopember 1998
Alamat: Jl. Rambutan, Gang PEKA,
RT.003 RW.02, Dsn. I, Kampung Sawah,
Kel. Jatimurni, Kec. Pondok Melati,
Bekasi - 17432
Telepon: 02184596862 Email: gkjpondokgede@yahoo.co.id
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/4
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Samuel Silo Samekto, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK:  Warga Dewasa: 664 Warga Anak: 210 Jumlah: 874

Profil dan Sejarah

Sebuah pertemuan di Pastori tanggal 12 Agustus 1982 yang dihadiri 22 orang menjadi tonggak penting, cikal bakal yang mengukuhkan niat untuk secara rutin menggelar pertemuan yang menjadi sarana untuk mengakrabkan dan saling mengenal.
Melalui pertemuan yang dihadiri : Bp. & Ibu Sutomo, Bp. & Ibu Sularso, Ibu Suwandi, Bp. & Ibu Tjuk Sungkono, Bp. & Ibu Soeripto, Bp. & Ibu Setyo Tjipto, Ibu Sikam, Bp. & Ibu Joesoef Ranumihardjo, Bp. & Ibu Kartimin, dihasilkan kesepakatan untuk menyelenggarakan PA Rutin, yang digelar bergilir di rumah jemaat. Setelah PA dilakukan secara rutin, secara bertahap jemaat mulai menyelenggarakan persiapan perjamuan secara mandiri di kelompok jemaat Pondok Gede yang sebelumnya dilakukan di GKJ Jakarta.
Melihat perkembangan ini, kemudian tumbuh inisiatif untuk mulai menyelenggarakan ibadah minggu sendiri setiap bulan sekali yang dikelola oleh Penatua Kelompok. Ibadah minggu pertama dilakukan di Rumah Pastori, kediaman Pdt. Suwandi Martoutomo, S.Th. dan dilayani oleh Pdt. David MP., sedangkan ibadah kedua diselenggarakan di Jl. Camar No. 7 komplek Bumi Makmur, kediaman Keluarga Darmo Purwanto (kemudian menjadi tempat tinggal keluarga Prasetyo Hatmodjo).
Setelah Majelis GKJ Jakarta mengetahui penyelenggaraan ibadah minggu tersebut, Majelis kemudian mendesak agar kelompok jemaat di Pondok Gede memiliki tempat ibadah tetap untuk melakukan ibadah minggu di wilayahnya. Sesuai keputusan Majelis GKJ Jakarta dalam rapat pleno ke 545, Jumat 3 Oktober 1986, kemudian diputuskan menjadikan rumah Bp. Joesoef Ranumihardjo sebagai tempat ibadah Minggu. Namun menjawab tawaran Bp. Dkn. Jahja Lasiman, atas usulan Bp. Prasetyo Subagyo dan 7 jemaat lainnya, kemudian dipilihlah kediaman Bp. Jahja Lasiman sebagai tempat ibadah. Maka terhitung sejak hari itu, hingga 4 tahun kemudian kelompok jemaat menikmati pelayanan sakramen perjamuan secara mandiri dan Sekolah Minggu untuk jemaat anak di rumah Keluarga Silvanus (depan rumah Bp. Jahja Lasiman).
Karena jemaat yang terus bertambah maka kebutuhan tempat ibadah baru menjadi keharusan. Dalam sebuah kesempatan, Bp. Soedarno berjumpa dengan Bp. Njoto Soebandrio teman semasa sekolahnya. Setelah pertemuan tersebut, Bp. Njoto Soebandrijo menawarkan Wisma Hexa miliknya sebagai tempat kebaktian. Kabar menggembirakan tersebut sayangnya tidak ditanggapi serius oleh jemaat saat itu masih melakukan kebaktian di Rumah Bp. Jahja Lasiman. Wisma Hexa kemudian baru dipergunakan setelah pergantian Majelis pada tahun 1990.
Tahun 1990 kelompok jemaat di Pondok Gede masih tergabung dalam wilayah Rawamangun C. Jumlah jemaat yang terus bertambah mendorong Majelis GKJ Jakarta untuk membentuk wilayah (pepanthan) baru. Akhirnya pada Januari 1991, kelompok jemaat Pondok Gede resmi menjadi wilayah sendiri, setelah 5 tahun perjalanannya. GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede adalah nama resminya dengan cakupan wilayah Jakarta Timur & Bekasi, serta dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:
a. Getsemane meliputi Jatimakmur & Jatiwaringin
b. Golgota meliputi Lubang Buaya, Ceger, Pinangranti & Bambu Apus
c. Kanaan meliputi Jatirahayu, Jatimurni, Jatimekar, Cakung Payangan & Kranggan
d. Kolose meliputi Kecamatan Jatiasih
Untuk melayani aktivitas jemaat terdapat 4 orang Penatua & 1 orang Diaken yang melayani GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede pada saat itu tercatat sebagai berikut:
a. Pnt. Prajoga Utama melayani Kelompok Getsemane
b. Pnt. Supramono melayani Kelompok Kanaan
c. Pnt. Sudarsono melayani Kelompok Golgota
d. Pnt. Djatmiko Listyobanu melayani Kelompok Kolose
e. Dkn. Joesoef Ranumihardjo sebagai Diaken Wilayah Pondok Gede.
Tuhan terus memelihara dan menumbuhkan GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede. Jemaat terus bertambah, kegiatan semarak, pembinaan berjalan baik serta persembahan dalam kondisi stabil dan cukup tinggi dengan rata-rata Rp 5.000,- per kepala/minggu (jumlah tertinggi di antara gereja-gereja yang akan mandiri). Jemaat GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede juga berada pada usia produktif serta didominasi jemaat minimal berpendidikan SMA, sebuah kondisi yang menumbuhkan keinginan kuat bagi jemaat untuk mandiri. Keinginan untuk mandiri tersebut direspon oleh GKJ Jakarta dengan menurunkan Tim Evaluasi Pembiakan Jemaat (TEPAT) yang bertugas meneliti dan mengevaluasi kesiapan suatu wilayah untuk menjadi gereja dewasa.
Pada Sidang Klasis Tegal tanggal 4-5 Februari 1997 di Pemalang, GKJ Jakarta mengusulkan agar GKJ Pondok Gede divitasi untuk dimandirikan. Sementara itu pada saat yang sama GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede segera membantuk Panitia Pemanggilan Calon Pendeta (PPCP). Selain mempersiapkan Pendeta, GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede juga berusaha memiliki gedung gereja sendiri yang dikerjakan oleh Badan Pelaksana Pembangunan Gereja (BPPG). Waktu berlalu dan hingga tahun 1998 baik PPCP & BPPG belum menunjukkan hasil kerja yang memuaskan.
Setelah penantian selama setahun, pada Sidang Klasis tanggal 10-11 Februari 1998 di GKJ Tanjung Priok, akhirnya hasil visitasi untuk GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede diputuskan dan menyetujui pendewasaan GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede.
Sekali lagi Allah membuktikan kasih dan setianya pada kerinduan jemaat yang Dia kasihi. Dalam kondisi belum memiliki seorang pendeta dan gedung gereja sendiri Allah mengaruniakan kemandirian, tepatnya pada tanggal 2 Nopember 1998 GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede ditetapkan menjadi gereja yang mandiri, yaitu GKJ Pondok Gede.
GKJ Pondok Gede mempunyai kerinduan untuk memiliki seorang pendeta sendiri sebelum mandiri. Keputusan untuk membentuk PPCP muncul pada rapat Majelis tanggal 2 Agustus 1997. PPCP diketuai oleh Bp. Soedarno, Bp. Budhi Santoso sebagai Sekretaris, Bp. Padmono Sk., S.Th., Bp. Djatmiko Listyobanu dan Bp. A. Supartono sebagai anggota.
Hal pertama yang dikerjakan oleh PPCP adalah menyusun criteria calon pendeta dan berdasarkan masukan dari Majelis dan Jemaat, akhirnya terpilih 3 orang yang memenuhi dan bersedia dicalonkan yakni:
1. Pdt. Steyfanus R. Pua dari Pondok Gede
2. Sdr. Tri Oetomo Adi Wibowo dari Tanjung Priok
3. Sdr. Ir. Yoel Muwun Indrasmoro, S.Si. dari Pondok Gede
Calon-calon tersebut selanjutnya dipanggil Majelis dan diperkenalkan pada jemaat melalui kegiatan kelompok secara bergiliran. Ditengah masa penjajakan, Ir. Yoel Indrasmoro harus melakukan kolegium pastoral sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan orientasi dengan intensif.
Setelah menyelesaikan masa orientasi akhirnya dilakukan pemilihan pada tanggal 6 Juni 1999, dari pemilihan tersebut tidak ada satu calon pun yang memenuhi syarat, karena suaranya kurang dari persyaratan yang telah ditetapkan oleh Majelis yaitu 70%.
Memulai kembali proses pemanggilan pendeta, pada saat itu Pdt. Aris Widaryanto, S.Th. sebagai pendeta konsulen mengusulkan nama Bapak Samuel Silo Samekto, S.Th. alumni UKDW Yogyakarta tahun 1974. Setelah dilakukan beberapa kali komunikasi, Bp. Padmono Sk., S.Th. dalam perjalanan ke Jawa Tengah menyempatkan diri untuk bertemu, menyatakan keinginan dan menanyakan kesediaan Bapak Samuel untuk mengikuti proses pemanggilan calon pendeta. Selanjutnya Majelis secara resmi memanggil beliau untuk mengikuti orientasi di GKJ Pondok Gede selama 3 bulan sejak tanggal 1 Nopember 1999 s/d 31 Januari 2000. Setelah Majelis meminta pendapat jemaat atas calon tunggal tersebut, hasilnya 92,4% jemaat menyetujui proses pemanggilan Bapak Samuel sebagai pendeta dilanjutkan kembali. Selama 1 tahun sesudahnya, sejak bulan Juni 2000 s/d Juni 2001, bersama-sama dengan Bapak Oktavianus Heri Prasetyo Nugroho dari GKJ Bekasi menjalani pembimbingan dari Pdt. Dr. Soelarso Sopater, Pdt. Dr. Kadarmanto Hardjowasito, Th.M, Pdt. Djoko Sulistyo, S.Th. dan Pdt. Andreas Untung Wiyono, S.Th. Akhirnya pada ujian peremptoir tanggal 25-26 Mei 2001 di GKJ Bekasi, Bapak Samuel dinyatakan layak tahbis dan ditahbiskan menjadi pendeta GKJ Pondok Gede pada tanggal 3 Nopember 2001.
Perjuangan jemaat GKJ Pondok Gede untuk memiliki gedung gereja sendiri dimulai saat BPPG diresmikan tanggal 18 Mei 1996. Meskipun jemaat telah memiliki tanah persembahan warga di daerah Bumi Makmur, namun IMB masih harus diperjuangkan karena membutuhkan persetujuan di sekitar tanah gereja. Karena upaya pengurusan IMB untuk tanah gereja di Bumi Makmur mengalami jalan buntu, Majelis mendorong BPPG untuk mencari tanah gereja di tempat lain. Akhirnya terbukalah jalan, GKJ Pondok Gede untuk mendapatkan tanah gereja di daerah Kampung Sawah pada tahun 2002-2003 seluas 2.000 m2 lebih, yang sekarang telah berdiri bangunan gereja yang dapat dipergunakan untuk beribadah. 


jpg140600 GKJ "Gandaria"

Tanggal Pendewasaan: 08 Juli 2000
Alamat: Komp. Yonif Mekanis 201 Jaya Yudha,
Jl. Raya Bogor KM.28, Jakarta Timur
Telepon: 0218717876 Email: gandaria@gkj.or.id
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 13/0
Pep. Cawang
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Didik Christian Adi Cahyono, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK:  Warga Dewasa: 830 Warga Anak: 262 Jumlah: 1092

 

 

 

 

 

 


jpg140700 GKJ Bogor

Tanggal Pendewasaan: 22 Juli 2006
Alamat: Kompleks Pulo Armin,
Jl. Pajajaran Blok A No.4,
Kel. Baranangsiang, Kec. Bogor Timur
Kota Bogor - 16143
Telepon: 02518360334 Email: gkjbogor@gmail.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 5/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Setyo Budi Purwanto, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK:  Warga Dewasa: 190 Warga Anak: 95 Jumlah: 285

Profil dan Sejarah

Disamping pengelompokan menurut kategorial umur: yaitu Anak, Remaja, Dewasa dan Adiyuswo. GKJ Bogor juga membuat kelompok perempuan yang bertujuan menampung aspirasi kaum perempuan (berada dibawah Komisi Warga Dewasa).

Pada ibadah umum Minggu V, diiringi oleh musik Band.

Sampai saat ini GKJ Bogor belum memiliki Surat Izin Ibadah dari Pemerintah. Pelaksanaan ibadah hanya berdasarkan Surat Tanda Lapor dari Pemerintah Kodya Bogor yang berlaku 2 tahun dan setiap habis masa berlakunya minta pembaharuan/perpanjangan. 


jpg140800 GKJ Bekasi Timur

Tanggal Pendewasaan: 22 Januari 2011
Alamat: Komp. Bekasi Grand Centre Blok F No.3,
Jl. Cut Meutia, Kel. Margahayu,
Kec. Bekasi Timur, Bekasi - 17113
Telepon: 02188356796 Email: sekretariat@gkjbekasitimur.org
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Johan Kristantara, S.Si.
Vikaris: 1 Pendeta Emeritus: 0
CPdt. Ribka Evelina Pratiwi, S.Si; -
KK:  Warga Dewasa: 739 Warga Anak: 384 Jumlah: 1123

Profil dan Sejarh

GKJ Bekasi Timur merupakan pendewasaan dari GKJ Bekasi  Wilayah Timur. Wilayah ditetapkan sejak tahun 2001, dan dalam perkembangannya mendapatkan status pra kelola pada tahun 2007. Pendewasaan GKJ Bekasi Timur pada tanggal 22 Januari 2011 dibarengi pula dengan penahbisan pendeta dalam diri Sdr. Johan Kristantara, S.Si. 


jpg140900 GKJ Bambu Kuning

Tanggal Pendewasaan: 30 Agustus 2014
Alamat: Jl. Bambu Kuning No.26,
Kel. Margamulya, Kec. Bekasi  Utara,
Bekasi - 17142
Telepon: 0218841443 Email: gkjbambukuning@yahoo.co.id
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 7/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Kukuh Purwidhianto, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 158 Warga Dewasa: 331 Warga Anak: 178 Jumlah: 509

 

 

 

 

 



kirim | cetak | pdf